Gerbang Kampus

Selamat datang di kampus Universitas Nusa Cendana, Kampus Baru, Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang, NTT.

Rektorat Undana

Gedung Rektorat Undana tempat rektor, para pembantu rektor, para kepala biro dan jajarannya berkantor.

Kehidupan Kampus

Kampus Undana menyediakan fasilitas untuk mendorong mahasiswa aktif berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan kampus.

Praktikum Laboratorium

Undana menyelenggarakan pendidikan akademik dan pendidikan vokasi yang didukung dengan fasilitas memadai, di antaranya laboratorium.

Wisuda Sarjana dan Pascasarjana

Setiap tahun Undana mewisuda lulusan sarjana dan pascasarjana dari berbagai bidang ilmu dan pendidikan profesi.

Sabtu, 08 November 2014

Kesempatan bagi Doktor dan Guru Besar Undana untuk Melakukan Penelitian Kolaborasi dengan Institusi Penelitian Amerika Serikat

Melalui email USAID/HELM menyampaikan bahwa USAID/Indonesia memberikan kesempatan kepada peneliti senior perguruan tinggi di Indonesia untuk berpartisipasi dalam program penelitian global Amerika Serikat. Program penelitian global tersebut diberi nama Partnerships for Engagement in Research (PEER). PEER merupakan program hibah penelitian internasional untuk mendanai penelitian yang kerjasama antara peneliti Indonesia dengan peneliti Amerika Serikat guna bersama-sama menghadapi tantangan pembangunan global. Melalui hibah ini diharapkan investasi pemerintah Amerika Serikat dalam bidang penelitian dapat membantu meningkatkan pembangunan di negara-negara di mana USAID hadir.

Pada tataran pertama PEER diharapkan dapat bukan hanya mengkatalisasi penelitian kerjasama dan menggunakan hasil penelitian untuk mendukung kegiatan pembangunan USAID. Pada tataran berikutnya, PEER diharapkan dapat membangun kerjasama penelitian jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas penelitian dan memperkuat ekosistem penelitian negara-negara berkembang, serta meningkatkan dukungan penelitian terhadap pembangunan. Sejak diluncurkan pada 2011, PEER telah memberikan hibah untuk lebih dari 160 penelitian di negara-negara berkembang, dengan jumlah dana hibah mencapai sekitar USD 28 juta. Institusi penelitian Amerika Serikat yang bergabung dalam program penelitian kerjasama ini meliputi National Science Foundation (NSF), National Institutes of Health (NIH), Smithsonian Institution, National Aeronautics and Space Administration (NASA), United States Department of Agriculture (USDA), dan United States Geological Survey (USGS).

Untuk tahun anggaran 2014/2015, USAID/Indonesia mengharapkan para peneliti Indonesia untuk memasukkan proposal penelitian sebagaimana telah digariskan dalam Mission's Country Strategy dengan topik prioritas penelitian yang mencakup: (1) keanekaragaman hayati (biodiversity), (2) perubahan iklim dan lingkungan hidup, (3) pendidikan, khususnya untuk memperkuat metode pengajaran dan kurikulum bidang sains, teknologi, kerekayasaan, dan matematika, (4) bencana alam, dan (5) pengelolaan air. USAID/Indonesia mengutamakan proposal penelitian yang mendorong kerjasama luas dengan pemangku kepentingan, khususnya dengan dunia usaha dan organisasi masyarakat sipil, juga yang berpotensi menjadi dasar pengambilan kebijakan pada tingkat nasional atau daerah dan yang menggunakan pendekatan inovatif dalam menjawab permaslahan pembangunan sebagaimana yang dinyatakan dalam Mission's Country Strategy.

Tanggal penting yang perlu dicatat berkaitan dengan program hibah penelitian PEER ini adalah sebagai berikut:
  • Pengumuman penyampaian pra-proposal: 1 Oktober 2014
  • Batas akhir pemasukan pra-proposal (2 halaman) untuk pembahasan tingkat pertama: 9 Januari 2015
  • Undangan pemasukkan proposal lengkap untuk pra-proposal yang disetujui: 13 Februari 2015
  • Batas akhir pemasukan proposal lengkap untuk pembahasan tingkat akhir: 30 Maret 2015
  • Pengumuman penerima dana hibah: akhir Juni 2015.
Silahkan mengunjungi www.nationalacademies.or/peer atau mengirimkan email ke peer@nas.edu untuk memperoleh informasi lebih lengkap mengenai program penelitian hibah ini. Juga silahkan mengunduh dokumen informasi pendahuluan, press release, informasi program hibah, dan informasi pemasukan proposal.


Program hibah ini terutama dikhususkan kepada para peneliti senior. Untuk lingkungan perguruan tinggi terutama dikhususkan bagi dosen berjenjang pendidikan doktor dan berjabatan akademik guru besar. Dengan penyampaian informasi ini diharapkan para dosen berjenjang pendidikan doktor dan berjabatan akademik guru besar di lingkungan Undana dapat berpartisipasi untuk bersaing menjajal ajang kompetisi penelitian global, sesuai dengan visi Undana untuk menjadi universitas berwawasan global. Para dosen berjenjang pendidikan doktor dan berjabatan akademik guru besar di lingkungan Undana tentu tidak harus menunggu para peneliti luar datang ke Undana, melainkan harus bisa proaktif untuk menjajagi sendiri peluang-peluang penelitian kerjasama seperti ini. Mereka yang berhasil memperoleh hibah kerjasama PEER ini tentu tidak perlu lagi bersaing memperoleh hibah penelitian tingkat universitas maupun tingkat Dikti yang seharusnya lebih difokuskan untuk meningkatkan kapasitas meneliti para dosen yunior.

Tautan Penting:
Beranda PEER, Rincian Program Hibah, Persyaratan Umum, Bidang Fokus Penelitian, Institusi Mitra Kerjasama,  Proses Pemasukan Proposal, Tanya Jawab, Pemasukan Proposal Melalui Jaringan, Hubungi PR 4 Undana

Mendampingi Dosen Menghadap Rektor: Menata Ulang Ruang Kampus Undana Merupakan Tugas Berat

Pada Jumat 7 Novermber 2014, saya mendampingi 3 dosen menghadap Rektoruntuk menyampaikan masukan mengenai apa yang perlu dilakukan agar lingkungan kampus Undana tertata dengan mengedepankan ciri lingkungan setempat, yaitu lahan kering kepulauan. Selama ini, kampus Undana yang luasnya mendekati 140 ha tampak kurang tertata. Bangunan-bangunan baru terkesan diletakkan begitu saja di sembarang tempat, tanpa mengikuti pola penataan ruang tertentu. Begitu juga dengan arsitektur bangunannya, terkesan tidak ada bedanya dengan bangunan pertokoan yang mendominasi arsitektur Indonesia saat ini. Belum lagi soal pertamanannya, yang melawan alam, menanam jenis-jenis tanaman introduksi yang memerlukan banyak air untuk menyiramnya pada musim kemarau.

Kampus yang tertata dengan baik pada umumnya meletakkan bangunannya dalam kelompok (cluster). Bangunan-bangunan untuk kepentingan pelayanan seluruh universitas seperti gedung rektorat, gedung kelembagaan dan pusat-pusatnya, perpustakaan, laboratorium penelitian, dsb. pada umumnya diletakkan di tengah. Bangunan untuk kepentingan sarana umum seperti stadion, auditorium, dan pusat informasi diletakkan di depan. Gedung-gedung fakultas dikelompokkan sesuai dengan bisang ilmu, misalnya kelompok ilmu-ilmu pertanian, kelompok ilmu-ilmu kesehatan, kelompok ilmu-ilmu ekonomi dan sosial, kelompok keguruan dan ilmu pendidikan dan kelompok ilmu hukum dan budaya, ditempatkan mengelilingi. Dengan penempatan gedung dalam kelompok-kelompok seperti itu maka akan tersedia lebih banyak ruang terbuka hijau. Pun dengan penempatan gedung dalam kelompok-kelompok seperti itu akan dapat dihemat biaya pembangunan infrastruktur jalan, listrik, dan jaringan komunikasi.

Namun penataan ruang kampus Undana memang sejak awal sudah kacau. Gedung rektorat memang sudah ditempatkan di tengah-tengah kampus. Tetapi gedung fakultas-fakultas diletakkan tersebar sangat berjauhan. Bahkan gedung fakultas-fakultas yang memerlukan laboratorium pembelajaran seperti Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, dan Fakultas Sains dan Teknik ditempatkan pada bagian lahan yang tinggi sehingga kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan laboratorium. Gedung untuk kepentingan pelayanan seluruh fakultas seperti perpustakaan, lembaga-lembaga, UPT komputer dan UPT kebahasaan yang seharusnya diletakkan dalam satu kelompok dengan gedung rektorat, justeru diletakkan menyelip di antara gedung-gedung fakultas. Dan lebih ironis lagi, di bagian depan kampus justru dibangun RSS dosen. Tata ruang awal kampus yang sudah kacau tersebut dibuat semakin kacat dalam 8 tahun terakhir ketika banyak bangunan bergaya pertokoan dibangun tanpa memperhatikan tata ruang. Semakin sempurnalah sudah kacaunya tata ruang kampus Undana.

Gedung baru rektorat yang ditempatkan di bagian depan kampus di pinggir jalan raya sungguh sangat menyalahi tata ruang. Pada lokasi tersebut sebelumnya sudah ditanam sebanyak 200-an cendana yang kemudian ditimbun begitu saja, untuk membangun gedung rektorat yang 'mejeng' di pinggir jalan tersebut. Letak gedung rektorat baru tersebut sungguh sangat tidak sesuai dengan pintu gergang kampus yang tetaknya di samping. Dari segi gaya arsitekturnya, gedung baru rektorat tersebut lebih mirip dengan pertokoan daripada dengan gedung institusi pendidikan. Demikian juga dengan gaya arsitektur gedung-gedung fakultas yang dibangun bersamaan dengan pembangunan gedung rektorat tersebut, semuanya dengan gaya arsitektur pertokoan. Ruang-ruang perkuliahan dengan jendela kaca rendah dan tertutup rapat menjadikan ruang kuliah sangat panas dan terganggu oleh suasana di luar ruang kuliah. Tidak satupun gedung dibangun dengan gaya arsitektur lokal. Memang tampak modern dan mengglobal, tetapi kehilangan jati diri sebagai universitas yang berlokasi di kawasan lahan kering.

Juga menjadi masalah adalah tidak adanya rambu-rambu penunjuk arah di kawasan kampus yang sedemikian luas dan dengan lokasi gedung-gedung yang sedemikian berserakan. Jalan-jalan di dalam kampus tidak mempunyai nama. Akibatnya, tamu, khususnya tamu dari luar kota, sering tersesat dalam kampus. Di banyak kampus, di dekat gerbang utamanya biasanya tersedia peta kampus disertai dengan penunjuk arah. Kemudian di setiap persimpangan jalan juga ditempatkan peta yang disertai dengan rambu-rambu penunjuk arah. Tidak demikian halnya di kampus Undana sehingga untuk sampai ke fakultas atau gedung tertentu, tamu dari luar harus bertanya beberapa kali sebelum sampai ke fakultas atau gedung yang dituju. Hal ini sungguh menjadi sangat ironis mengingat kampus yang sekarang ini sudah ditempati sejak akhir 1980-an. Dan pembangunan gedung-gedung baru begitu gencar dilakukan selama beberapa tahun terakhir tanpa memperhatikan pembangunan lingkungan kampus secara keseluruhan.

Mengenai penataan ruang terbuka hijau bahkan lebih parah. Saat ini ruang terbuka hijau kampus didominasi oleh pohon gamal yang pada awalnya ditanam untuk memperbaiki kondisi mikro lahan yang didominasi oleh batu karang. Bukannya setelah kondisi mikro lahan menjadi lebih baik pohon gamal kemudian ditebang dan diganti dengan jenis-jenis pohon lain, melainkan justru dibiarkan tumbuh menjadi besar. Di sekitar gedung rektorat baru dan pintu gerbang, demikian juga di beberapa fakultas, mnemang telah dibuat taman. Tetapi sebagaimana halnya gedung yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir, taman-taman juga dibangun dengan gaya yang sangat tidak membumi. Alih-alih menanam jenis-jenis tanaman hias tahan kering, yang ditanam justru jenis-jenis tanaman hias introduksi yang untuk memeliharanya memerlukan penyiraman terus menerus. Selain biaya pemeliharaannya sangat mahal, pembangunan taman-taman seperti itu sungguh tidak menyatu dengan lingkungan setempat, menjadikan kampus terasa asing di lingkungannya sendiri.

Rektor menerima dengan baik masukan yang disampaikan oleh ketiga dosen. Rektor mengakui bahwa selama ini tata ruang kampus kurang mendapat perhatian. Namun Rektor mengakui dengan tata ruang kampus yang sudah sedemikian kacau, tidaklah mudah untuk menatanya kembali. Rektor menyampaikan bahwa prioritas utamanya adalah menghapuskan seluruh bangunan RSS dan mengubahnya menjadi kawasan hutan arboretum. Rektor juga menyampaikan kerjasama yang telah dan akan dilakukan untuk membangun tata ruang kampus. Di antaranya, disampaikan kerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTT untuk pembangunan embung, sumur bor, dan pengaspalan jalan kampus. Untuk pertamanan, Rektor menyetujui untuk lebih memprioritaskan penanaman jenis-jenis tumbuhan lokal daripada menanam jenis-jenis tanaman hias introduksi. Mengenai jenis-jenis pohon yang ditanam pada kawasan ruang terbuka hijau, Rektor memprioritaskan penanaman cendana di bagian depan stadion. Rektor telah meminta agar anggaran untuk pembangunan taman dialihkan untuk pembangunan arboretum cendana dan penanaman jenis-jenis pohon lokal tersebut.

Minggu, 12 Oktober 2014

Mengikuti Studi Banding Tambang Rakyat Ramah Lingkungan di Denpasar, Bali, dan Kasepuhan Cisitu, Banten

Tambang rakyat selama ini dicitrakan sebagai kegiatan yang merusak lingkungan. Oleh karena itu, ketika ditawari untuk mengikuti studi banding tambang rakyat yang ramah lingkungan sebagai bagian dari kerjasama penelitian dengan Charles Darwin University (CDU), saya pun menjadi ingin tahu, apa benar tambang rakyat dapat dilakukan seperti itu. Selain itu, saya tertarik mengikuti kegiatan itu juga untuk memperluas kerjasama dengan kalangan akar rumput, yaitu para penambang rakyat, yang kini terorganisasi dalam Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) yang dipimpin oleh Gatot Sugiharto, sebelumnya sama-sama mengikuti kegiatan lokakarya di Kendari, Sulawesi Tenggara. Studi banding ini berlangsung pada 6-10 Oktober 2014, di Denpasar, Bali, dengan Yayasan BaliFokus, sebelum kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Wawengkon Kasepuhan Cisitu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, di mana APRI melaksanakan kegiatan pendampingan Community Green Gold Mining (CGGM) selama kurang lebih 5 tahun terakhir.

Rabu, 24 September 2014

Menghadiri "Planning and Strategy Workshop" Penelitian Dampak Tambang Rakyat di Charles Darwin University, Darwin, NT, Australia

Saat ini Undana sedang bekerjasama dengan Charles Darwin University (CDU), Australian National University (ANU), dan Universitas Halu Oleo (UHO) dalam melaksanakan penelitian tambang rakyat dan tambang skala kecil di Timor Barat, Provinsi NTT, dan Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini didanai oleh AusAID melalui skema Government Partnership for Development (GPFD). Sebagai bagian dari kerjasama ini dilaksanakan lokakarya perencanaan dan penyusunan strategi pelaksanaan pada 15-19 September 2014 di CDU. Sebagai tuan rumah adalah Research Institute for the Environment and Livelihoods (RIEL), lembaga penelitian CDU yang sudah sejak lama aktif melaksanakan penelitian di Indonesia, khususnya di Provinsi NTT.

Kamis, 04 September 2014

Menyampaikan Orasi Ilmiah Berjudul 'Biosecurity (Ketahanan Hayati): Perubahan Paradigma Perlindungan Tanaman untuk Menghadapi Tantangan Globalisasi'

Siang hari, Senin, 25 Agustus 2014, saya menerima surat dari Pembantu Rektor I Dr. David Pandie. Isinya, bisa dibilang mengejutkan atau bisa juga tidak, saya diminta menyampaikan orasi ilmiah pada hari kedua Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Dies Natalis ke-52 serta Wisuda Magister, Profesi, dan Sarjana Undana Periode September 2014. Mengejutkan karena sebelumnya Rektor sudah menyampaikan bahwa pada Dies Natalis ke-52 ini, orasi ilmiah akan disampaikan oleh Rektor Universitas Hasanuddin. Juga mengejutkan karena dalam satu rangkaian perayaan dies dan prosesi wisuda, yang karena jumlah wisudawan/wisudawati terlalu banyak dilakukan dua hari, disampaikan dua orasi ilmiah. Bisa dikatakan tidak mengejutkan karena sebelumnya, pada saat wisuda periode Juni 2014, PR I sudah pernah meminta agar saya menyampaikan orasi ilmiah pada wisuda berikutnya tetapi saya tidak menyanggupi karena saya baru diwisuda Oktober, sedangkan Dies Natalis ke-52 berlangsung 1 September.

Bagaimanapun, terlepas dari berbagai kesibukan sebagai PR IV, baik kesibukan sehari-hari maupun kesibukan dalam mempersiapkan perayaan dies natalis dan prosesi wisuda, saya harus menyiapkan orasi ilmiah yang diminta oleh panitia untuk dikumpulkan selambat-lambatnya Jumat, 29 September 2014. Praktis saya hanya mempunyai waktu selama 3 hari, Selasa sampai Kamis, itu pun kalau saya tidak harus melayani tamu dan kegiatan lainnya. Tapi pada hari Selasa ternyata banyak tamu, di antaranya dari Litbang KPK dan dari Kopasus, sehingga pada hari itu saya belum tahu bagaimana alur orasi yang harus saya sampaikan. Ketika menerima surat sehari sebelumnya, saya sudah memutuskan akan menyampaikan orasi mengenai biosecurity (ketahanan hayati), tetapi belum mereka-reka bagaimana akan menyampaikannya.

Begitulah, sesampai di rumah sekitar pukul 21.00 WITA pada hari Selasa, saya mencoba menyalakan komputer untuk membaca kembali tesis S3 saya mengenai ketahanan hayati masyarakat jeruk keprok soe. Tidak musah menentukan bagian yang mana dari 4 bab mengenai hasil dan pembahasan yang akan saya ambil untuk menyusun orasi ilmiah. Keempat bab tersebut, setelah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, adalah: (1) Mengkonfirmasi ketahanan hayati: Mengidentifikasi hama dan penyakit serta menilai ancamannya di lapangan, (2) Sebaran hama dan penyakit: Studi kualitatif mengenai produksi dan distribusi bibit okulasi serta pendekatan masyarakat untuk memperbaiki tatakelola ketahanan hayati, (3) Menjelaskan ketahanan hayati: Studi metode campuran terhadap faktor-faktor yang berpotensi berkontribusi terhadap ketahanan hayati masyarakat, dan (4) Pembahasan umum dan sintesis: Teori baru mengenai ketahanan hayati masyarakat. Saya berusaha membaca kembali bab-bab tersebut dengan cepat, tetapi saya tetap belum dapat menentukan akan mengambil bagian yang mana.

Keesokan harinya, Rabu, saya sampaikan kepada sekretaris bahwa saya tidak bisa menerima bisa menerima tamu. Saya berusaha merenungkan bagian mana dari tesis saya yang akan saya ambil untuk menyusun orasi ilmiah. Saya teringat dengan tema Dies Natalis sebagaimana seminggu sebelumnya, saya diskusikan dengan Rektor, 'Meningkatkan Daya Saing Global Berdasarkan Keunggulan Lokal'. Saya putuskan untuk menyusun orasi ilmiah dengan mengaitkan ketahanan hayati dengan globalisasi dan upaya yang perlu dilakukan untuk melindungi keunggulan lokal, dalam hal ini lahan kering kepulauan. Saya merasa seperti Archimedes ketika menerikan Eureka. Tetapi ini baru menemukan topik, pekerjaan panjang masing menunggu, bagaimana menyusun alur dengan topik tersebut sehingga dapat lebih mudah dipahami oleh khalayak non-teknis, yang terdiri atas wisudawan/wisudawati dan orang tua mereka serta undangan lainnya yang terdiri atas para pejabat. Selain lebih mudah dapat dipahami, saya harus mengusahakan agar orasi ilmiah dengan topik tersebut bisa menarik perhatian.

Saya putuskan judul orasi saya adalah Biosecurity (Ketahanan Hayati): Perubahan Paradigma Perlindungan Tanaman untuk Menghadapi Globalisasi. Saya mempertahankan istilah asing biosecurity, meskipun saya adalah yang mengusulkan agar istilah tersebut diindonesiakan menjadi ketahanan hayati, dengan pertimbangan istilah asing tersebut lebih menarik di kalangan para pejabat (yang lebih suka menggunakan istilah asing daripada mengindonesiakannya). Saya juga sengaja memilih istilah paradigma, yang juga merupakan istilah yang populer di kalangan para pejabat, meskipun saya ragu apakah mereka benar-benar memahami apa makna istilah tersebut. Selebihnya, istilah globalisasi saya pilih untuk menyelaraskan orasi ilmiah saya dengan tema dies natalis sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Saya putuskan untuk menyusun orasi ilmiah dengan alur yang dimulai dengan dampak umum globalisasi, ancaman yang ditimbulkan oleh globalisasi pada sektor pertanian dalam bentuk kehilangan hasil tanaman (yield loss), paradigma lama dalam menghadapi ancaman terhadap kehilangan hasil, paradigma baru ketahanan hayati yang saya tawarkan, kemunduran jeruk keprok soe sebagai contoh ketidakberdayaan paradigma lama perlindungan tanaman, dan upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan ketahanan hayati lahan kering kepulauan.

Saya sudah mempunyai alur, tetapi itu berhasil saya rumuskan ketika hari Rabu sudah menjelang sore. Praktis saya hanya mempunyai satu hari lagi, Kamis, untuk menyelesaikan penyusunannya. Sementara itu, pekerjaan yang berkaitan dengan jabatan sebagai PR IV juga harus saya laksanakan, menerima tamu, mengikuti rapat-rapat, mewakili rektor membuka atau menutup kegiatan, dan bahkan mendampingi istri mengorganisasikan pertandingan bola voli ibu-ibu dharma wanita dalam rangka perayaan dies natalis. Rabu siang, panitia datang ke ruangan saya untuk memastikan kapan orasi ilmiah dapat saya selesaikan untuk kemudian siap cetak. Ketika saya sampaikan kendala waktu yang saya hadapi, panitia dengan baik hati menyarankan agar saya menyalin (copy) dan menempel (paste) saja dari tesis PhD saya. Saya berusaha memaklumi mengapa panitia menyarankan begitu, tetapi tentu saja itu tidak bisa saya lakukan karena tesis saya dalam bahasa Inggris, sedangkan orasi ilmiah harus saya bacakan dalam bahasa Indonesia. Saya pun minta waktu sampai Jumat petang. Panitia mempunyai waktu untuk mencetak pada Sabtu sampai Senin, karena saya menyampaikan orasi pada hari kedua, Selasa.

Hari Kamis saya mulai menyusun orasi. Saya sudah terbiasa menulis cepat sehingga tidak mengalami banyak kesulitan dalam menuangkan alur pikiran yang telah saya rangkai ke dalam kalimat dan alinea. Saya sudah biasa menulis tayangan blog hanya dalam satuan jam. Tentu saya menyiapkan tulisan blog tidak sama dengan menyusun sebuah orasi ilmiah, meskipun bahasa orasi sudah saya putuskan untuk bernuansa ilmiah populer. Saya perlu melengkapi naskah orasi dengan pustaka dan data sebagai lampiran. Pustaka saya pilih dari tesis saya, dengan menambahkan beberapa pustaka yang berkaitan dengan globalisasi dan kehilangan hasil tanaman. Pustaka tersebut saya ekspor dari EndNote ke dalam Zotero, yang pertama adalah program aplikasi berbayar pengelolaan pustaka yang saya gunakan ketika menyusun tesis sedangkan yang kedua adalah program aplikasi akses terbuka pengelolaan pustaka. Sebagian data, yaitu data mengenai kehilangan hasil tanaman, perlu saya telusuri di dunia maya karena bukan merupakan bagian dari tesis saya. Data lainnya, terutama dalam bentuk peta dan foto, saya pilih dari dari tesis saya. Meskipun sudah bekerja sampai larut pada Kamis malam, sampai hari Jumat siang, saya belum juga menyelesaikan naskah orasi.

Hari Jumat saya masuk kantor agak siang karena pagi harinya saya gunakan untuk melanjutkan penyusunan orasi di rumah. Saya baru berangkat ke kantor setelah naskah orasi berhasil saya susun dalam bentuk naskah kasar. Sesampai di kantor, saya minta sekretaris untuk mencetak dan melakukan proof reading untuk menemukan kata-kata yang salah ketik. Saya sebenarnya ingin meminta bantuan kepada seseorang untuk membantu memperbaiki tatabahasa dan isi naskah, tetapi karena waktu yang sangat mendesak, saya memutuskan untuk tidak melakukan itu. Ketika menyusun orasi ilmiah pada kali pertama untuk dies natalis ke-36 pada 1998, saya meminta bantuan orang lain untuk memeriksa tatabahasa dan orang lain lagi untuk memeriksa isi naskah. Kali ini saya terpaksa tidak bisa melakukan itu karena hari sudah menjelang malam ketika saya menyesaikan penyuntingan akhir dan saya harus menyerahkan naskah orasi ilmiah kepada panitia.

Orasi ilmiah berhasil saya susun dan saya sampaikan pada hari kedua Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Dies Natalis ke-52 serta Wisuda Magister, Profesi, dan Sarjana Undana Periode September 2014, silahkan unduh atau baca online (memerlukan Adobe Reader versi termutakhir). Tentu saja orasi yang saya susun dan bacakan tersebut tidak lepas dari berbagai kekurangan. Saya lupa mencantumkan sejumlah pustaka, di antaranya buku Revisitasi Lahan Kering yang saya susun bersama dengan Prof. Fredrik L. Benu, padahal buku tersebut merupakan buku mengenai lahan kering kepulauan sebagai unggulan lokal yang saya paparkan dalam orasi. Saya juga menulis salah gelar akademik istri saya, saya tuliskan SP padahal seharusnya SPi. Terhadap kesalahan tersebut dan kesalahan-kesalahan lainnya, melalui kesempatan ini saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Harapan saya, sebagaimana telah saya sampaikan dalam orasi ilmiah, semoga pengalaman mengenai kemuduran jeruk keprok soe dapat kita jadikan pelajaran dalam mengelola ketahanan hayati kawasan lahan kering kepulauan, agar tidak terulang lagi pada tanaman lainnya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites