Gerbang Kampus

Selamat datang di kampus Universitas Nusa Cendana, Kampus Baru, Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang, NTT.

Rektorat Undana

Gedung Rektorat Undana tempat rektor, para pembantu rektor, para kepala biro dan jajarannya berkantor.

Kehidupan Kampus

Kampus Undana menyediakan fasilitas untuk mendorong mahasiswa aktif berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan kampus.

Praktikum Laboratorium

Undana menyelenggarakan pendidikan akademik dan pendidikan vokasi yang didukung dengan fasilitas memadai, di antaranya laboratorium.

Wisuda Sarjana dan Pascasarjana

Setiap tahun Undana mewisuda lulusan sarjana dan pascasarjana dari berbagai bidang ilmu dan pendidikan profesi.

Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2015

Undana Bekerjasama dengan CDU Melaksanakan Penelitian Mengenai Irigasi di Kawasan Lahan Kering

**Tulisan kontribusi oleh Jenny E.R. Markus dan Adrianus Amheka setelah disunting dan dilengkapi** Universitas Nusa Cendana (Undana) bekerja sama dengan Charles Darwin University (CDU), Australia, mengadakan lokakarya program penelitian dan peningkatan kapasitas masyarakat pada daerah irigasi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lokakarya yang berjudul “Improving Irrigation Infrastructure for Greater Food and Water Security” tersebut disponsori oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Australia, melalui skema Australia Indonesia Infrastructure Research Award (AIIRA) dan berlangsung pada 26-27 Mei 2015 bertempat di ruang lecture theatre Gedung Rektorat lantai 3. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh PR4 Undana Ir. I Wayan Mudita, M.Sc, Ph.D untuk memperkenalkan program ini di tingkat Kabupaten serta mempersiapkan data sekunder untuk selanjutnya dilakukan pengumpulan data penelitian di daerah irigasi bendungan Kambaniru Sumba Timur dari tanggal 27-30 Mei 2015. Lokakarya dibuka langsung oleh Rektor Undana Prof. Fred Benu.

Dalam acara sambutan pembukaan workshop, Rektor Undana mengatakan bahwa ketahanan pangan saat ini menjadi isu penting masyarakat dunia. Lebih lanjut dikatakan, pengairan dan irigasi untuk lahan pertanian menjadi sangat penting untuk merealisasikan upaya meningkatkan produktivitas hasil pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan. Prof. Andrew Campbell, Direktur Research Institute for the Environment and Livelihood (RIEL) dan Dekan School of Environment, CDU, dalam sambutannya selaku ketua tim CDU meminta Rektor Undana dalam kapasitas sebagai ilmuwan dalam bidang sosial-ekonomi pertanian untuk terlibat menjadi tim ahli pada beberapa proyek penelitian yang sedang maupun akan dilaksanakan antara CDU dan Undana. Lokakarya dihadiri oleh Tim Undana yang terdiri atas 5 dosen dari 3 fakultas, yaitu Jenny E.R. Markus dan Norman Riwu Kaho dari Fakultas Pertanian, Utma Aspatria dari Fakuktas Kesehatan Masyarakat, dan Adrianus Amaheka dan Elia Hunggurami dari Fakultas Sains dan Teknik, dan 6 orang mahasiswa dari ketiga fakultas tersebut  ,Juga  hadir utusan dari Dinas PU dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur, Nagekeo, TTS, Kopesda, Yayasan Pahadang Monjoru, dan Bappeda TTS. Tim CDU yang dipimpin oleh Prof. Andrew Campbell terdiri atas Dr. Penny Wurm (School of Environment), Prof. Charlie Fairfield (School of Engineering and Information Technology), Prof. Emma Williams (The Northern Institute), Prof. Ken Evans (School of Engineering and Information Technology), Mr. Sam Pickering Riel (RIEL), dan Ms. Sarah Hobgen (kandidat PhD dari RIEL).


Lokakarya dilaksanakan untuk mempersiapkan pelaksanaan penelitian lapangan yang akan dilaksanakan dengan tujuan umum untuk meningkatkan akses masyarakat di dareah irigasi terhadap air minum dan sanitasi yang sehat serta untuk meningkatkan produktivitas sistem irigasi di NTT yang diharapkan dapat meningkatkan kesejaterahan masyarakat petani. Tujuan khusus penelitian adalah untuk (1) meningkatkan kapasitas petugas pemerintah di tingkat propinsi dan kabupaten dalam membangun pemerintahan yang efektif terkait dengan pengelolaan air dan sanitasi, (2) menilai rancangan infrastruktur irigasi dan sanitasi terkait dengan kecocokan situasi lokal, dan (3) mengkomunikasikan kebutuhan lokal dan solusi lokal kepada pemerintah daerah dan pusat, dan mitra internasional.

Pertanyaan yang dibahas dalam pelaksanaan lokakarya yang berlangsung selama dua hari tersebut adalah: (1) Solusi teknik maupun pengelolaan seperti apa yang dapat meningkatan kefektifan infastrukur irigasi di empat DAS terbesar di NTT?, (2) Bagaimana ketersediaan air minum dan sanitasi yang sehat dapat tercapai dalam daerah irigasi ini?, (3) Faktor apa saja (fisik, pemerintahan, keuangan) yang berpengaruh tepat pada infrastruktur irigasi, (4) Struktur pemerintahan seperti apa yang dapat mendukung ketersediaan air irigasi, air minum dan sanitasi di daerah irigasi di NTT?, dan (5) Informasi apa lagi yang dibutuhkan untuk lebih memahami dampak dari pengelolaan DAS terhadap kualitas air dan sedimentasi. Untuk itu, lokakarya didahului dengan presentasi oleh sejumlah narasumber dan dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mempertajam pertanyaan penelitian.



Untuk mempertajam pertanyaan penelitian yang akan digunakan dalam pengumpulan data, peserta lokakarya dibagi menjadi kelompok sebagai berikut: (1) Kelompok Kerja Teknik Sipil, bertugas membahas rancang bagun bendungan dan memperkirakan masa pengunaanya serta meghasilkan informasi mengenai rancang bangun infrastrukur irigasi yang tepat untuk NTT, (2) kelompok kerja air minum dan sanitasi, bertugas menggambarkan ketersediaan kualitas air minum dan sanitasi di daerah irigasi serta menghasilkan rekomendasi-rekomendasi untuk meningkatkan kualitas air minum dan efektifitas sanitasi, (3) kelompok kerja benchmarking dan tatakelola, bertugas menyiapkan pertanyaan wawancara untuk menilai keefektifan sistem irigasi melalui Rapid Rural Appraisal (RRA) serta menghasilkan rekomendasi untuk pengelolaan dan pemerintahan irigasi, dan (4) kelompok kerja  pemantauan (monitoring), bertugas menggambarkan data dasar yang dibutuhkan untuk pengelolaan yang lebih baik, termasuk data debit air, curah hujan dan kekeruhan, serta menggambarkan dan mencoba cara sederhana untuk mengukur dan melaporkan data tersebut (misalnya buku kecil dengan cara mengukur dan melaporkan dengan FrontlineSMS)

Lokakarya dilanjutkan dengan pengumpulan data lapangan yang dilaksanakan di dareah irigasi Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur pada 28-31 Mei 2018. Pengumpulan data dilakukan secara partisipatif dengan tujuan meningkatkan kapastitas lokal dalam penelitian, penilaian infrastruktur dan penilain pemerintahan. Secara keseluruhan, kegiatan penelitian terdiri atas tahap-tahap sebagai berikut: (1) Pertemuan perkenalan program penelitian di tingkat kabupaten, (2) pengumpulan data sekunder, (3) lokakarya bersama kabupaten lain yang diselenggarakan pada 26-27 Mei 2007, (3) pengumpulan data di lapangan di Bendungan Kambaniru, Kabupaten Sumba Timur, sebagai sampel, (4) tabulasi dan penanalisaan data, dan (5) seminar laporan penelitian yang akan dilaksanakan di Kupang untuk diseminasi hasil penelitian. Dua tahap pertama sudah dilaksanakan pada tahun sebelumnya.

Kegiatan lapangan pengumpulan data dilakukan di Bendungan Kambaniru, Kabupaten Sumba Timur. Kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan ke bendungan Kambaniru pada sore hari 28 Mei 2015. Selain melihat keadaan  sekitar bendungan, pada saat yang sama diadakan diskusi persiapan untuk melakukan diskusi kelompok fokus (Focus Group Discussion, FGD) dan untuk membahas panduan wawancara rumah rumah tangga yang akan dilaksanakan selama dua hari kegiatan lapangan pada 29-30 Mei 2015.



FGD dilakukan di Mailiru pada 29 Mei 2015 dan di Kelurahan Lambanapu pada 30 Mei 2015. Kedua FGD tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk menggali informasi informasi berkaitan dengan masalah sanitasi dan air bersih serta informasi berkaitan dengan pemnafaat air irigasi Bendungan Kambaniru dan permasalahan yang terjadi sebagai akibat dari adaya bendungan tersebut.  FGD diikuti oleh perwakilan petani, ibu rumah tangga, aparat pemerintah desa/kelurahan, dan perwakilan perkumpulan petani pemakai air (P3A). Wawancara rumah tangga untuk uji kuesioner dilaksanakan di Desa Marumata terhadap 12 rumah tangga sampel, terdiri atas 6 rumah tangga sampel untuk uji coba kuesioner masalah sanitasi dan 6 rumah tangga sampel untuk uji coba kuesioner masalah irigasi.  Pada hari Sabtu sore sampai malam haridilakukan evaluasi terhadap kegiatan lapangan selama dua hari. Peserta diminta melaporkan hasik wawancara  dan temuan yang dialami di desa balam bentuk transkrip sebabagi data awal untuk pelaporan. Selain itu juga dilaksanakan diskusi untuk menilai dan melakukan perbaikan kuesioner. Kegiatan field work ini juga diakhiri dengan makan malam bersama di pelabuhan Waingapu.

Sabtu, 03 Januari 2015

Survei Cepat Penambangan Mangan Rakyat di DAS Noelmina: Untuk Menentukan Lokasi Survei Lengkap pada 2015

Setelah menyelesaikan survei uji coba di DAS Tilong, tim penelitian penambangan mangan rakyat juga melaksanakan survei cepat (quick survey) di DAS Noelmina, DAS yang ditetapkan sebagai lokasi utama penelitian. Survei kembali dipimpin oleh Ir. Remi L. Natonis, MSi., dengan beberapa anggota yang berbeda dengan anggota yang terlibat pada survei uji coba di DAS Tilong. Beberapa anggota tim survei uji coba DAS Tilong tidak dilibatkan dengan mempertimbangkan sulitnya medan yang harus ditempuh pada awal musim hujan, yaitu Desember 2014. Survei cepat ini dimaksudkan untuk menentukan desa/kelurahan di dalam DAS Noelmina di mana banyak dilakukan penambangan mangan rakyat, selain juga untuk menggali informasi dasar mengenai penambangan mangan rakyat di dalam DAS tersebut. Survei yang mulai dilaksanakan pada pertengahan Desember 2014 tertunda penyelesaiannya karena kendala musim hujan sehingga baru dapat diselesaikan pada pertengahan Januari 2015.

Survei dilaksanakan di 17 kecamatan yang mempunyai desa/kelurahan yang wilayahnya termasuk dalam DAS Noelmina. Mula-mula dilakukan wawancara dengan petugas kecamatan yang mempunyai informasi mengenai penambangan mangan untuk menentukan desa/kelurahan yang perlu dikunjungi lebih lanjut. Berdasarkan atas informasi dari petugas kecamatan kemudian dilakukan kunjungan ke desa/kelurahan yang menurut informasi dari kecamatan merupakan lokasi penambangan mangan rakyat. Di setiap desa/kelurahan selanjutnya dilakukan wawancara dengan aparat pemerintahan desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan anggota masyarakat yang pernah terlibat dalam penambangan mangan. Pertanyaan berkisar di seputar nama lokasi penambangan, kegiatan penambangan dan keterlibatan para pihak, serta dampak penambangan terhadap penghidupan masyarakat. Lokasi kecamatan dan desa/kelurahan tempat dilakukan wawancara disajikan pada peta berikut.


Sampai saat ini kunjungan telah dilaksanakan ke 14 dari 17 kecamatan yang wilayahnya tercakup dalam DAS Noelmina. Tiga kecamatan yang belum dapat dikunjungi adalah Kecamatan Fatumnasi, Kecamatan Numbena, dan Kecamatan Mollo Barat, ketiganya di Kabupaten TTS. Ketiga kecamatan tersebut belum dapat dikunjungi karena kendala cuaca dan prasarana transportasi. Jalan ke Fatumnasi mengalami kerusakan sangat berat sehingga tidak aman bila ditempuh dalam cuaca berkabut mengingat desa tersebut terletak pada ketinggian sekitar 1.600 m di atas permukaan laut. Dua kecamatan lainnya, yaitu Mollo Barat dan Nunbena belum dapat dikunjungi karena harus melalui sungai besar yang belum mempunyai jembatan sehingga untuk melintasinya terkendala oleh banjir.

Data yang diperoleh pada saat ini sedang dalam proses transkripsi dan tabulasi. Secara umum dapat disampaikan bahwa penambangan mangan terdapat di seluruh kecamatan, meskipun di Kabupaten Kupang penambangan mangan dilarang oleh pemerintah kabupaten. Lokasi tambang di setiap desa yang dikunjungi tersebar di banyak tempat dengan jarak dari pusat desa berkisar dari cukup dekat sampai sangat jauh. Penambangan pada umumnya dilakukan sebagai pekerjaan sambilan pada musim kemarau ketika masyarakat telah selesai melakukan panen dan belum mulai melakukan pembukaan lahan untuk musim tanam berikutnya.  Penambangan juga dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana, terutama linggis untuk menggali lubang dan mencungkil batuan mangan, dilakukan di lahan sendiri maupun di lahan milik keluarga, tanpa menggunakan perlengkapan keamanan apapun selayaknya yang digunakan oleh penambang. Batuan mangan diangkut ke lokasi pengumpulan atau ke rumah untuk menunggu pedagang perantara yang akan datang membeli.

Mengingat sebaran penambangan mangan yang tersebar luas di seluruh DAS maka perlu dipikirkan rancangan pengambilan sampel yang akan digunakan pada saat pelaksanaan survei yang akan dilaksanakan pada pertengahan 2015. Mungkin perlu ditentukan sejumlah desa/kelurahan yang akan mewakili bagian hulu, tengah, dan hilir DAS. Dalam menentukan desa/kelurahan sampel, selain merupakan desa/kelurahan tempat penambangan, juga perlu dipertimbangkan prasarana jalan yang tersedia ke desa/kelurahan yang bersangkutan. Juga perlu dipertimbangkan berbagai isu yang terjadi berkaitan dengan penambangan rakyat, khususnya yang berkaitan dengan dampak positif dan dampak negatif yang terjadi terhadap lingkungan hidup dan penghidupan masyarakat.

Pada saat ini edang dilakukan transkripsi dan tabulasi terhadap data yang diperoleh dari survei cepat yang belum seluruhnya dapat diselesaikan. Setelah transkripsi dan tabulasi selesai dilaksanakan, data akan dimasukkan ke dalam peta sehingga ketika nama desa pada peta diklik maka data dasar yang berkaitan dengan penambangan mangan yang dilakukan oleh masyarakat di desa tersebut dapat diperoleh. Data dasar yang akan disajikan meliputi lokasi areal tambang, tahun mulai dilakukan penambangan, hasil yang diperoleh setiap penambang, harga batu mangan, dan kecelakaan kerja yang pernah terjadi dan korban jiwa bila ada. Informasi lengkap mengenai penambangan mangan di DAS Noelmina akan diinformasikan setelah selesai dilaksanakan survei lengkap pada pertengahan 2015.


Rabu, 31 Desember 2014

Survei Uji Coba Penelitian Penambangan Mangan Rakyat di DAS Tilong: Pemantapan Metodologi Sebelum Survei Sebenarnya di DAS Noelmina

Survei uji coba (pilot survey) di DAS Tilong, DAS kecil yang di bagian hilirnya terdapat Bendung Tilong, bendung pemasok kebutuhan air baku bagi sebagian Kota Kupang, dilaksanakan sebagai bagian dari pelaksanaan penelitian dampak penambangan mangan rakyat di Timor Barat. Penelitian dampak penambangan mangan rakyat tersebut merupakan bagian dari penelitian dampak penambangan rakyat yang melibatkan peneliti dari Charles Darwin University (CDU), Australian National University (ANU), Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Halu Oleo (UHO) yang mencakup penambangan mangan di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan penambangan emas di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra). Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati, survei uji coba ini dilaksanakan pada Oktober-November 2014. Tujuan dari survei uji coba ini adalah untuk memantapkan metodologi yang akan digunakan nanti pada pelaksanaan survei yang sebenarnya pada 2015.

Survei uji coba ini dipimpin oleh Remi L. Natonis, SP, MSi., dan dikoordinasikan oleh oleh anggota tim inti, Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D., melibatkan dosen dan mahasiswa dari program studi agroteknologi dan agribisnis, Fakultas Pertanian, dan program studi pertambangan, Fakultas Sains dan Teknik. Metodologi yang diuji coba penggunaannya adalah metode penilaian areal tambang, metode wawancara, dan metode pengukuran erosi yang telah dirancang pada penelitian fase pendahuluan yang dilaksanakan pada 2012-2013 sebelumnya di seluruh kabupaten/kota di Timor Barat. Uji coba dilakukan untuk mengetahui kinerja penggunaan metode serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam penerapannya di lapangan. Berdasarkan atas temuan dari survei uji coba ini akan dilakukan penyempurnaan metode yang nanti akan digunakan pada survei sebenarnya yang akan dilaksanakan di DAS Noelmina pada 2015.

Medan yang ditempuh berbukit sampai bergunung. Berjalan kaki di hamparan padang dan belukar yang gersang pada puncak musim kemarau memang tidaklah mudah. Maklum, lokasi areal tambang mangan pada umumnya terletak jauh dari permukiman penduduk, jauh pula dari jalan, sehingga satu-satunya yang dapat dilakukan adalah berjalan kaki belasan kilometer untuk menuju areal penambangan. Perjalanan harus pula ditempuh melalui lereng bukit, badan sungai kering, dan padang yang sejauh mata memandang tidak ada pepohonan. Sesampainya di lokasi, anggota tim harus melakukan pengukuran kedalaman setiap lubang galian tambang, harus mengukur luas setiap lubang tambang dengan menggunakan alat penerima GPS, semuanya harus dilakukan di bawah terik matahari karena pohon-pohon yang seharusnya bisa menjadi peneduh sedang tidak berdaun. Kendala yang berbeda tentu akan dialami bila survei dilakukan pada musim hujan sehingga penentuan waktu survei yang tepat menjadi sangat penting agar metodologi yang sudah dirancang dapat digunakan secara optimal.



Pada siang hari musim kemarau seperti ini, anggota masyarakat umumnya sibuk membuka lahan yang dilakukan dengan cara menebas belukar, dibiarkan mengering, untuk kemudian dibakar. Ketika pulang, mereka membawa dedaunan pohon yang dipangkas untuk digunakan sebagai pakan sapi. Pada musim kemarau seperti ini, rumput mengering sehingga penduduk mengandalkan jenis-jenis pohon tertentu, di antaranya beringin dan kabesak, sebagai hijauan pakan. Mereka juga pulang dengan membawa kayu bakar, yang disishkan dari potongan belukar yang ditebang di lokasi mereka membuka ladang. Sesampai di rumah, kamum ibu dan anak-anak masih harus berjalan jauh lagi, karena sungai-sungai mengering, untuk pergi ke mata air untuk mengambil air untuk minum dan masak. Larut malam mereka baru bisa berkumpul dengan keluarga. Karena itu, wawancara sebaiknya dilakukan pada malam hari dan pada pagi hari ketika sebagian besar anggota masyarakat masih berada di eumah.



Pada saat dilakukan survei uji coba, aktivitas penambangan mangan di DAS Tilong sedang dihentikan karena konflik antar kelompok yang terjadi sebelumnya. Penambangan mangan memang rawan menimbulkan konflik, terutama karena status penguasaan lahan yang rumit. Konflik seperti itu ada yang bisa diselesaikan secara adat, tetapi ada juga yang penyelesaiannya melalui jalur hukum. Karena sedang tidak ada aktivitas penambangan maka selama survei tidak ditemukan ada aktivitas penambangan, melainkan hanya lubang tambang, baik lubang baru maupun lubang lama. Karena itu pula tidak dapat diketahui bagaimana cara penambangan dilakukan, meskipun pada umumnya dengan cara menggali lubang vertikal. Hanya di beberapa tempat ditemukan lubang horizontal, khususnya di lereng tebing bukit atau di tebing sungai.

Pengukuran erosi dilakukan dengan metode pemasangan paku, yaitu dengan memasang paku kuran besar pada beberapa jalur transek dengan jarak antar jalur yang diketahui dan panjang setiap jalur juga diketahui. Paku dipasang sampai kepala paku rata dengan permukaan tanah dan kemudian setelah musim hujan diukur jarak kepala paku timbul di atas permukaan tanah. Erosi kemudian diukur sebagai jumlah jarak antar transek dikalikan dengan panjang transek dan dikalikan lagi dengan tinggi kepala paku muncul dari permukaan tanah. Cukup sederhana, tetapi permukaan lahan tidak rata sehingga hasil pengukuran dengan teknik ini merupakan pengukuran pendekatan. Kendala yang dihadapi baru bisa diketahui setelah nanti dilakukan pengukuran terakhir setelah musim hujan.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa penambangan mangan rakyat merupakan pekerjaan yang dilakukan terutama pada musim kemarau setelah selesai panen. Penambangan dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat sebagai pekerjaan sambilan dengan menggunakan peralatan sederhana linggis dan tanpa menggunakan alat pengaman apapun. Batuan mangan yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk dipikul dibawa pulang ke rumah. Pembeli biasanya datang ke rumah penduduk dan batuan mangan dijual dengan harga sekitar Rp 1.000,-/kg. Bukan harga yang sangat menarik, tetapi di tengah langkanya sumber pendapatan tunai maka hasil penambangan mangan menjadi sangat berarti sebagai sumber pendapatan tunai rumah tangga.

Sabtu, 08 November 2014

Kesempatan bagi Doktor dan Guru Besar Undana untuk Melakukan Penelitian Kolaborasi dengan Institusi Penelitian Amerika Serikat

Melalui email USAID/HELM menyampaikan bahwa USAID/Indonesia memberikan kesempatan kepada peneliti senior perguruan tinggi di Indonesia untuk berpartisipasi dalam program penelitian global Amerika Serikat. Program penelitian global tersebut diberi nama Partnerships for Engagement in Research (PEER). PEER merupakan program hibah penelitian internasional untuk mendanai penelitian yang kerjasama antara peneliti Indonesia dengan peneliti Amerika Serikat guna bersama-sama menghadapi tantangan pembangunan global. Melalui hibah ini diharapkan investasi pemerintah Amerika Serikat dalam bidang penelitian dapat membantu meningkatkan pembangunan di negara-negara di mana USAID hadir.

Pada tataran pertama PEER diharapkan dapat bukan hanya mengkatalisasi penelitian kerjasama dan menggunakan hasil penelitian untuk mendukung kegiatan pembangunan USAID. Pada tataran berikutnya, PEER diharapkan dapat membangun kerjasama penelitian jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas penelitian dan memperkuat ekosistem penelitian negara-negara berkembang, serta meningkatkan dukungan penelitian terhadap pembangunan. Sejak diluncurkan pada 2011, PEER telah memberikan hibah untuk lebih dari 160 penelitian di negara-negara berkembang, dengan jumlah dana hibah mencapai sekitar USD 28 juta. Institusi penelitian Amerika Serikat yang bergabung dalam program penelitian kerjasama ini meliputi National Science Foundation (NSF), National Institutes of Health (NIH), Smithsonian Institution, National Aeronautics and Space Administration (NASA), United States Department of Agriculture (USDA), dan United States Geological Survey (USGS).

Untuk tahun anggaran 2014/2015, USAID/Indonesia mengharapkan para peneliti Indonesia untuk memasukkan proposal penelitian sebagaimana telah digariskan dalam Mission's Country Strategy dengan topik prioritas penelitian yang mencakup: (1) keanekaragaman hayati (biodiversity), (2) perubahan iklim dan lingkungan hidup, (3) pendidikan, khususnya untuk memperkuat metode pengajaran dan kurikulum bidang sains, teknologi, kerekayasaan, dan matematika, (4) bencana alam, dan (5) pengelolaan air. USAID/Indonesia mengutamakan proposal penelitian yang mendorong kerjasama luas dengan pemangku kepentingan, khususnya dengan dunia usaha dan organisasi masyarakat sipil, juga yang berpotensi menjadi dasar pengambilan kebijakan pada tingkat nasional atau daerah dan yang menggunakan pendekatan inovatif dalam menjawab permaslahan pembangunan sebagaimana yang dinyatakan dalam Mission's Country Strategy.

Tanggal penting yang perlu dicatat berkaitan dengan program hibah penelitian PEER ini adalah sebagai berikut:
  • Pengumuman penyampaian pra-proposal: 1 Oktober 2014
  • Batas akhir pemasukan pra-proposal (2 halaman) untuk pembahasan tingkat pertama: 9 Januari 2015
  • Undangan pemasukkan proposal lengkap untuk pra-proposal yang disetujui: 13 Februari 2015
  • Batas akhir pemasukan proposal lengkap untuk pembahasan tingkat akhir: 30 Maret 2015
  • Pengumuman penerima dana hibah: akhir Juni 2015.
Silahkan mengunjungi www.nationalacademies.or/peer atau mengirimkan email ke peer@nas.edu untuk memperoleh informasi lebih lengkap mengenai program penelitian hibah ini. Juga silahkan mengunduh dokumen informasi pendahuluan, press release, informasi program hibah, dan informasi pemasukan proposal.


Program hibah ini terutama dikhususkan kepada para peneliti senior. Untuk lingkungan perguruan tinggi terutama dikhususkan bagi dosen berjenjang pendidikan doktor dan berjabatan akademik guru besar. Dengan penyampaian informasi ini diharapkan para dosen berjenjang pendidikan doktor dan berjabatan akademik guru besar di lingkungan Undana dapat berpartisipasi untuk bersaing menjajal ajang kompetisi penelitian global, sesuai dengan visi Undana untuk menjadi universitas berwawasan global. Para dosen berjenjang pendidikan doktor dan berjabatan akademik guru besar di lingkungan Undana tentu tidak harus menunggu para peneliti luar datang ke Undana, melainkan harus bisa proaktif untuk menjajagi sendiri peluang-peluang penelitian kerjasama seperti ini. Mereka yang berhasil memperoleh hibah kerjasama PEER ini tentu tidak perlu lagi bersaing memperoleh hibah penelitian tingkat universitas maupun tingkat Dikti yang seharusnya lebih difokuskan untuk meningkatkan kapasitas meneliti para dosen yunior.

Tautan Penting:
Beranda PEER, Rincian Program Hibah, Persyaratan Umum, Bidang Fokus Penelitian, Institusi Mitra Kerjasama,  Proses Pemasukan Proposal, Tanya Jawab, Pemasukan Proposal Melalui Jaringan, Hubungi PR 4 Undana

Sabtu, 05 Juli 2014

Undana Memberangkatkan Peserta EIFI 2014 ke Lapangan

Setelah menerima secara resmi melalui makan malam bersama di Restoran Subasuka sehari sebelumnya, pada 30 Juni 2014 Undana memberangkatkan peserta EIFI 2014 ke Buat, Kabupaten TTS, untuk memperoleh orientasi lapangan selama dua hari. Pada acara makan malam bersama, melalui Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama dan Alumni I Wayan Mudita, Rektor Undana menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dan berharap kepada peserta dari Undana agar dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sebagaimana telah ditulis sebelumnya, EIFI merupakan kegiatan praktik kerja lapangan (field intensive) yang melibatkan mahasiswa dan dosen dari empat universitas, yaitu Charles Darwin University (CDU), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), dan Universitas Nusa Cendana (Undana). Kegiatan lapangan berlangsung di Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS.

Sebelum diberangkatkan, perwakilan rombongan diterima oleh Rektor Prof. Fred Benu di ruang kerjanya, Gedung Rektorat Undana Lantai II. Pada kesempatan tersebut, Ketua Program EIFI Dr. Penny Wurm menyampaikan terima kasih atas persiapan yang telah dilakukan dengan baik dan sambutan hangat yang telah diberikan oleh Undana. Dr. Penny Wurm menjelaskan kepada Rektor bahwa EIFI kali ini merupakan kali yang ketiga dan akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang untuk memberikan pengalaman lapangan kepada mahasiswa dan dosen muda dari keempat universitas. Dr. Bronwyn Myers, Wakil Ketua Program yang mendampingi ketua rombongan ketika itu, menambahkan bahwa selain Program EIFI, CDU juga telah bekerjasama dengan Undana dalam beberapa kegiatan penelitian, di antaranya penelitian mengenai dampak penambangan rakyat di Timor Barat dan Sulawesi Tenggara, di mana I Wayan Mudita adalah salah seorang anggota tim peneliti.

Rektor menyambut baik kerjasama tersebut dan mengharapkan agar di masa depan kerjasama dapat lebih ditingkatkan. Menanggapi keinginan rektor tersebut, Dr. Bronwyn Myers menyampaikan bahwa pada bulan Agustus nanti, kegiatan penelitian dampak penambangan rakyat akan memberikan kesempatan kepada pimpinan Undana dan Universitas Halu Oleo (Unhalu) untuk berkunjung ke CDU. Diharapkan bahwa kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan oleh Undana untuk membahas kerjasama lebih lanjut antara Undana dan CDU. Rektor menyampaikan bahwa kerjasama lebih lanjut dapat ditingkatkan melalui program double degree antara Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Undana dengan School of Environmental Science di CDU, selain kerjasama dengan Research Institute for the Environment and Livelihoods (RIEL) yang telah terbina selama ini.

Keberangkatan rombongan ke Buat didampingi oleh Pembantu Rektor IV I Wayan Mudita. Dalam perjalanan menuju Buat, rombongan berhenti di beberapa titik, di antaranya di tepi Sungai Noelmina, di titik tertinggi jalan baru menjelang kota Soe, dan di penangkaran buaya di Buat. Di tepi sungai Noelmina rombongan mengamati erosi tebing, sedimentasi, dan kegiatan penambangan pasir di badan sungai. Dari titik tertinggi menjelang Soe, rombongan menyaksikan lahan bekas ladang yang diinvasi gulma Chromolaena odorata dan pemandangan ke arah sungai Noelmina. Pada titik tersebut, I Wayan Mudita menemukan untuk pertama kali sejak dilepaskan pada 1986, kumbang Curinus coeruleus, predator kutu loncat lamtoro Heteropsylla cubana. Predator ini diintroduksi sebagai agen hayati untuk mengendalikan kutu loncat yang menghancurkan lamtoro sejak 1985.

Kumbang Curinus coeruleus (warna biru mengkilap), predator kutu loncat lamtoro Heteropsylla cubana (berukuran sangat kecil, warna kuning)



Rombongan tiba di Buat sekitar pukul 14.00 WITA dan menginap di wisma Balai Latihan Kehutanan. Menjelang wisma, rombongan sempat menyaksikan buaya di penagkaran buaya setempat. Setelah makan siang, rombongan beristirahan sebentar sebelum kemudian memulai kegiatan persiapan pada pukul 16.00 WITA. Setelah kegiatan persiapan, rombongan akan langsung menuju desa Linamnutu dan akan didampingi oleh Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Prof. Simon Sabon Ola. Selama melaksanakan kegiatan lapangan, rombongan didampingi oleh Dr. Gomer Liufeto dan oleh Ibu Jenny E.R. Markus. Cerita mengenai kegiatan lapangan dapat dibaca pada blog RIEL (Research Institute for the Environment and Livelihoods, Charles Darwin University).

Undana Kembali Berpartisipasi dalam Program EIFI 2014 Bersama-sama CDU, UGM, dan UKSW

Undana kembali berpartisipasi dalam Program EIFI (Eastern Indonesia Field Intensive). EIFI merupakan program kerjasama yang melibatkan empat universitas, yaitu Charles Darwin University (CDU), Darwin, Australia; Universitas Nusa Cendana (Undana),  Kupang, NTT; Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta; dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah. Partisipasi Undana tersebut dibahas dalam rapat persiapan akhir yang dipimpin oleh Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama dan Alumni I Wayan Mudita pada Jumat, 27 Juni 2014 di ruang rapat pimpinan, lantai II Gedung Rektorat Undana. Kegiatan lapangan program tersebut akan dilaksanakan di desa Linamnutu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, pada 2-7 Juli 2014, setelah didahului dengan pembekalan mahasiswa pada 30 Juni-1 Juli di Buat, dan kemudian akan diakhiri dengan penyusunan dan penyajian laporan di Soe pada 8-11 Juli 2011.

Program ini dikelola oleh RIEL (Research Institute for the Environment and Livelihoods), lembaga penelitian yang menangani isu-isu lingkungan hidup dan penghidupan masyarakat di CDU, dan diketuai oleh Dr. Penny Wurm, Pembantu Ketua Bidang Pembelajaran dan Pengajaran, Sekolah Ilmu Lingkungan CDU. EIFI merupakan program gabungan pembelajaran dan penelitian yang melibatkan dosen dan mahasiswa dari keempat universitas. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan lintas bidang ilmu, lintas budaya, dan lintas bahasa dan difokuskan untuk mengeksplorasi isu-isu pembangunan perdesaan, ketahanan pangan, penyediaan air irigasi dan air bersih, serta penguasaan lahan dengan juga melibatkan masyarakat desa setempat. Program dilaksanakan setiap 2 tahun dan kegiatan pada Juni 2014 ini merupakan kegiatan ketiga.

Kegiatan EIFI ketiga ini dikoordinasikan oleh Marten Kapa, Pembantu Rektor III Bidang kemahasiswaan sebelumnya. Hal itu dilakukan untuk menjamin kelancaran pelaksanaan kegiatan, mengingat waktu yang sangat terbatas. Pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya akan dikoordinasikan oleh Pembantu Rektor IV sekarang, Prof. Simon Sabon Ola. Koordinasi persiapan pelaksanaan difasilitasi oleh Kepala International Relations Office, Prof. H.D.J. Lalel, sedangkan kegiatan lapangan oleh Dr. Gomer Liufeto.

Untuk kegiatan kali ini, mahasiswa Undana yang dilibatkan seluruhnya berasal dari Fakultas Pertanian. Koordinasi mahasiswa pada tingkat fakultas dilaksanakan oleh Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dr. Lince Mukkun dan koordinasi bidang akademik oleh Jenny E.R. Markus, Ketua Program Studi Agroteknologi sebelumnya. Koordinasi bidang akademik selanjutnya akan ditangani oleh ketua program studi sekarang, Antonius S.S. Ndiwa. Mahasiswa yang dilibatkan terdiri atas 5 orang dari program studi agroteknologi dan 2 orang dari program studi agribisnis. Setiap mahasiswa juga akan didampingi oleh seorang dosen pembimbimbing dari dua dosen pembimbing skripsi tiap-tiap mahasiswa.

Melalui rapat koordinasi tersebut, Pembantu Rektor IV menyampaikan agar para dosen dan mahasiswa Undana yang terlibat dapat memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk bertukar informasi dan pengalaman dengan sesama dosen dan mahasiswa dari ketiga universitas lainnya. Mengingat kegiatan berlangsung di wilayah NTT, para dosen dan mahasiswa Undana diminta agar bisa menjadi tuan rumah yang baik, setidak-tidaknya dalam memberikan penjelasan mengenai aspek bahasa dan budaya setempat. RIRL menyediakan informasi lebih lanjut untuk mahasiswa peserta, publikasi kegiatan tahun sebelumnya, dan presentasi audio-visual kegiatan sebelumnya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites