Gerbang Kampus

Selamat datang di kampus Universitas Nusa Cendana, Kampus Baru, Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang, NTT.

Rektorat Undana

Gedung Rektorat Undana tempat rektor, para pembantu rektor, para kepala biro dan jajarannya berkantor.

Kehidupan Kampus

Kampus Undana menyediakan fasilitas untuk mendorong mahasiswa aktif berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan kampus.

Praktikum Laboratorium

Undana menyelenggarakan pendidikan akademik dan pendidikan vokasi yang didukung dengan fasilitas memadai, di antaranya laboratorium.

Wisuda Sarjana dan Pascasarjana

Setiap tahun Undana mewisuda lulusan sarjana dan pascasarjana dari berbagai bidang ilmu dan pendidikan profesi.

Tampilkan postingan dengan label kuliah tamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah tamu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2015

Menristekdikti Prof. Muhammad Nasir Memberikan Kuliah Umum Mengenai Nawacita di Kampus Undana

**Tulisan kontribusi oleh Wayan Nampa setelah disunting dan dilengkapi** Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. Muhammad Nasir menyempatkan diri memberikan kuliah mengenai Nawacita di ruang lecture theatre Gedung Rektorat Undana dalam kunjungannya ke Kabupaten Kupang. Kunjungan Menristekdikti ke Kabupaten Kupang dimaksudkan untuk melihat program pengembangan ternak sapi di wilayah tersebut, antara lain melihat hasil penerapan teknologi inseminasi buatan Desa Fatuteta, Kecamatan Kupang Timur. Pada kesempatan tersebut, Menristekdikti berkesempatan berdialog dengan peternak terkait dengan pengembangan peternakan sapi, mengingat NTT telah ditetapkan pemerintah pusat sebagai salah satu daerah pemasok daging nasional, sekaligus mendukung program swasembada daging. Kunjungan ke kampus Undana yang semula dijadwalkan berlangsung pagi hari diundur menjadi siang hari, sekembali Menteri dari kunjungan ke Desa Fatuteta.

Setiba di kampus Undana, Menristekdikti disambut dengan pengalungan kain tenun NTT oleh Rektor Undana Prof. Fred Benu. Setelah mendengarkan paduan suara, Menristekdikti menyalami pimpinan Undana yang ikut menyambut, antara lain PR III Prof. Simon Sabon Ola dan PR IV Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D. Menristekdikti selanjutnya diantarkan oleh Rektor menuju ruang kuliah umum. Kuliah umum dipandu langsung oleh Rektor Undana Prof. Fred Benu, didampingi oleh Wakil Gubernur NTT Benny Litelnoni dan kemudian juga oleh Gubernur NTT Frans Labu Raya yang hadir menyusul. Dalam sambutannya, Rektor Undana Prof. Fred Benu menyampaikan terima kasih kepada Menristekdikti yang telah menyempatkan hadir di kampus Undana. Setelah sedikit memberikan penjelasan mengenai Undana, Rektor mempersilahkan Menristekdikti untuk menyampaikan paparan mengenai Nawacita.


Menristekdikti mengawali paparannya dengan menyampaikan informasi mengenai penyesuaian organisasi kementerian hasil penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi dan Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Natsir mengungkapkan DIKTI tidak lagi ada setelah dilebur menjadi satu kementerian dengan Ristek. Nasir mengatakan dikementeriannya saat ini didukung 5 Direktoral Jenderal. Tiga direktorat Jenderal akan berurusan langsung dengan Pendidikan Tinggi supaya masalah-masalah yang ada di perguruan tinggi bisa diselesaikan dengan baik. Direktorat tersebut adalah Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Kelembagaan yang menyangkut dengan izin, pembukaan program studi, serta Direktorat Jenderal Sumber Daya, menyangkut urusan dosen, urusan jabatan fungsional, rekrutmen dosen, dan beasiswa untuk dosen, dan perubahan aset. Selain itu, guna mendorong pengembangan riset dan teknologi terdapat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, serta Direktorat Jenderal Inovasi.

Lima Direktorat di Kementerian Ristekdikti ini diarahkan untuk merealiasaikan program Nawacita, bagaimana membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesaia. Dalam upaya tersebut, diperlukan sumberdaya manusia yang unggul dan kompetitif.  “Jangan sampai sumberdaya terbagun sentralistik di kota-kota besar. Pembangunan sumberdaya manusia yang merata dan berdaya saing akan mendorong pemerataan ekonomi, serta aplikasi hasil-hasil penelitian yang lebih produktif”, Nasir menjelaskan. Natsir melanjutkan, “Undana sebagai lembaga pendidikan dan juga penelitian diharapkan mampu mengembangkan penelitian-penelitan aplikatif yang mendukung dunia usaha. Bagaimana akademisi, pemerintah daerah, dan dunia usaha mampu bersinergi, sehingga meningkatkan produkstifitas. Dunia usaha tentu menginginkan investasinya dapat kembali dalam jangka waktu yang terukur”. Selain itu, Nasir mengingatkan perguruan tinggi agar menjaga kualitas lulusan. Lulusan perguruan tinggi tidak mampu bersaing dan menjadi pengangguran dapat menimbulkan permasalahan baru yang jauh lebih merepotkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. “Kita akan menghadapi masalah yang lebih besar apabila di Negara kita banyak memiliki pengangguran terdidik ini, terlebih kita akhir tahunini akan menghadapi MEA”, imbuh Nasir.

Terkait kualitas pendidikan, Menteri Nasir mengingatkan bagaimana semua pihak menjaga marwah pendidikan kita. Nasih menegaskan kementeriannya akan membersihkan ijasah-ijasah yang cara perolehannya tidak dengan proses yang benar. Menteri juga menghimbau Gubernur NTT yang hadir dalam acara ini untuk mengecek keabsahan ijasah para pegawainya. Begitu juga di lingkungan Kemenristekdikti. “Coba telusuri ijasah para pegawai, dosen, maupun mahasiswa. Kalau ditemukan ada yang menggunakan ijasah palsu, maka kita akan bersihkan. Jangan sampai dosen yang mengajarkan kejujuran malah berbuat tidak jujur imbuhnya. Modus ijasah palsu ini bermacam-macam. Ada orang yang tanpa kuliah mendapatkan ijasah. Ada juga dengan kuliah tetapi prosesnya pembelajarannya tidak benar. Orang hanya dalam satu tahun kuliah sudah memperoleh gelar sarjana. Jadi penting membangun Negara ini dengan manusia yang handal, berintegritas”, papar Nasir. Hal senada juga disampaikan Gubernur NTT Frans Lebu Raya. NTT sebagai daerah terdepan di perbatasan memeiliki tantangan yang besar. “Kita harus menyiapkan sumberdaya yang mumpuni agar mampu bersaing”, kata Gubernur Frans Lebu Raya.


Sementara itu, lebih jauh Muhammad Nasir mengungkapkan masih memiliki beberapa pekerjaan besar yang akan diselesaikan di kementeriannya. “Saat ini fokus kita ada pada penertiban ijasah palsu, berikutnya baru kita akan menata dan menertibkan kelas jauh, dan sinkronisasi aturan. Aturan publikasi pada mahasiswa yang menyelesaikan studi misalnya, mahasiswa kita dipaksa harus publikasi pada jurnal nasional terakreditasi, tetapi kita tau bersama berapa jumlah jurnal terakreditasi kita”, ingkap Nasir menanggapi pertanyaan direktur Program Pascasarjana Undana terkait permasalahan ini. Seusai memberikan kuliah umum, Menteri dicecar banyak pertanyaan oleh kalangan awak media berkaitan dengan masalah yang terjadi di Universitas PGRI Kupang. Selanjutnya Menteri dan rombongan berkenan menikmati jamuan makan siang bersama dengan Rektor dan pimpinan Undana, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, dan pimpinan DPRD Provinsi NTT. Didampingi oleh Rektor, serta Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Menteri selanjutnya memasuki Ruang Rapat Rektor untuk menyelesaikan permasalahan Universitas PGRI Kupang, tetapi karena Rektor Universitas PGRI tidak hadir maka rapat dibatalkan dan Menteri bersama rombongan meninggalkan kampus Undana.


Minggu, 31 Mei 2015

Kuliah Umum Mengenai Peningkatan Kerjasama Bidang Ketahanan Pangan, Air, Eenergi dan Perubahan Iklim oleh Direktur Research Institute for the Environment and Livelihoods dan Dekan School of Environment Charles Darwin University

Menindaklanjuti hasil pertemuan sebelumnya dan sebelumnya, Direktur Research Institute for the Environment and Livelihoods (RIEL) dan Dekan School of Environment Charles Darwin University (CDU), Prof. Andrew Campbell, berkunjung ke Undana untuk memberikan kuliah umum mengenai peningkatan kerjasama bidang ketahanan pangan, air, eenergi dan perubahan iklim kepada mahasiswa Pascasarjana Undana. Prof. Cambel berkunjung ke Undana bersama rombongan dosen dan peneliti CDU yang akan melaksanakan lokakarya penelitian AIIRA yang dipimpin oleh Dr. Penny Wurm, Deputy Dean School of Environment CDU. Kuliah umum berlangsung di Aula Gedung Pascasarjana Undana pada 26 Mei 2015 pukul 17.00 WITA, setelah sebelumnya Prof. Cambel berdiskusi mengenai proposal penelitian S3 dengan sejumlah mahasiswa S3 Ilmu Administrasi Undana. Kuliah umum yang diberikan dalam bahasa Inggris tersebut dimoderatori dan diterjemahkan oleh dan kemudian sesi diskusi dimoderatori oleh Rektor Undana Prof. Fred Benu.

Prof. Andrew Campbel memulai kuliah tamunya dengan menyampaikan topik yang akan dibahas, yang antara lain meliputi keterkaitan antara pangan, air, lahan dan energi, konsep ketahanan jangka panjang dalam menghadapi perubahan iklim, dan kebutuhan dunia untuk meningkatkan ketahanan pangan, air, dan energi yang pada akhirnya memerlukan keterpaduan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan untuk memungkinkan terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Prof. Campbell menggarisbawahi keterpaduan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan mengingat penanganan isu global perubahan iklim masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan yang berbeda antar negara, terlepas dari fakta bahwa dari selueuh artikel jurnal yang dipublikasikan pada 1991-2012, misalnya, 13.950 artikel mendukung adanya perubahan iklim dan hanya 24 artikel yang menolak. Terlepas dari bukti ilmiah yang sangat kuat tersebut, Prof. Campbell menandaskan, ternyata masih banyak negara yang mengambil kebijakan yang belum pro penanganan perubahan iklim. Padahal, menurut Prof. Campbell, perubahan iklim mengancam bukan hanya negara kepulauan seperti Indonesia, tetapi juga negara benua seperti Australia.


Untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia yang jumlah penduduknya terus meningkat, produksi pertanian perlu ditingkatkan sebesar 70% pada 2050 dari produksi sekarang. Untuk meningkatkan produksi pertanian diperlukan air dan lahan. "Kita sudah pernah melakukan ini di masa lalu", kata Prof. Cambell, "tetapi perubahan iklim dan menipisnya cadangan minyak bumi dunia merupakan tantangan bagi kita semua untuk bisa mengulangi hal yang sama ke depan". Untuk memproduksi setiap kalori bahan pangan diperlukan 1 liter air tawar, padahal menurut IWMI Comprehensive Assessment of Water Management in Agriculture,70% cadangan air tawar dunia sudah digunakan sehingga ketersediaan air tawar untuk produksi pertanian akan terus menurun dari tahun ke tahun. Hal yang sama juga terjadi pada lahan, degradasi lahan yang terus meningkat akan membatasi ketersediaan lahan untuk meningkatkan produksi pangan. Prof. Campbell mengutip laporan FAO mengenai kecenderungan degradasi lahan yang menyatakan bahwa lebih dari 20% lahan budidaya, 30% lahan hutan, dan 10% lahan padang rumput telah terdegradasi. Pada saat yang sama, perubahan iklim juga berdampak terhadap keanekaragaman hayati, baik keanekaragaman hayati alami maupun keanekaragaman hayati budidaya, yang juga merupakan penopang utama ketahanan pangan.


Untuk menghadapi itu semua, kata Prof. Campbell, diperlukan kebijakan untuk tidak memisahkan pembangunan ekonomi dari emisi karbon. Kebijakan perlu didasarkan atas bukti ilmiah yang independen, bukan hanya atas bukti yang dibuat sendiri oleh pemerintah melalui lembaga yang didirikan untuk tujuan tersebut. Dalam kaitan dengan itu universitas perlu bekerjasama dengan universitas lain dan lembaga pemerintah perlu membuka pintu kerjasama dengan universitas. "Evidence-based policy bukanlah kebijakan yang didasarkan atas data yang sengaja diproduksi sendiri", tandas Prof. Cambell, "melainkan atas data pihak lain yang telah mengalami proses peer review". Hanya dengan cara membuka pintu kerjasama dengan universitas dan institusi penelitian maka pemerintah bisa mengambil kebijakan pembangunan yang benar-benar berkelanjutan, katanya melanjutkan. Pada pihak lain, universitas dan institusi penelitian juga perlu melakukan pendekatan dengan instansi pemerintah untuk mendorong terjadinya perubahan dari dalam lembaga pemerintah sendiri.

Prof. Andrew Campbell mencontohkan institusi penelitian yang dipimpinnya, Research Institute for the Environment and Livelihoods (RIEL), dalam upaya untuk mendekatkan ilmu pengetahuan dan kebijakan guna semakin mendorong pengambilan kebijakan yang semakin pro pembangunan berkelanjutan. Untuk itu RIEL dikembangkan sebagai institusi penelitian lintas disiplin yang saat ini mempekerjakan 50 peneliti, 6 tenaga administrasi, 14 teknisi, dan 75 mahasiswa S3 dalam berbagai bidang ilmu untuk melakukan penelitian dalam bidang-bidang penghidupan berbasis sumberdaya alam, ekologi dan pengelolaan pesisir dan laut, ekologi dan pengelolaan perairan tawar, serta pengelolaan savana dan konservasi kehidupan liar. RIEL mengkoordinasikan pusat-pusat, yang terdiri atas Center for Renewable Energy, Darwin Centre for Bushfire Research, Environmental Chemistry and Microbiology Unit, North Australian Biodiversity NERP Hub, dan North Australian Marine Research Alliance. Saat ini RIEL mengoperasikan anggaran sekitar A$ 10 milyar per tahun, mempublikasikan 200 artikel dalam jurnal ilmiah peer review per tahun, dan menduduki peringkat 4 di antara institusi sejenis lainnya di Australia.

RIEL telah bekerjasama dalam banyak bidang dengan Undana sebagai bagian dari upaya untuk memfokuskan diri meningkatkan kerjasama sub-regional Australia Utara, Asia Tenggara, dan Pasifik. Ke depan, RIEL akan berupaya untuk meningkatkan kerjasama dalam penelitian mengenai karbon biru (blue carbon), ketahanan pangan (food security), dan tatakelola (governance) dalam kerangka keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan. "Undana tentu saja akan menjadi mitra kerjasama yang penting", tandas Prof. Campbell, "untuk bersama-sama membangun jejaring pertukaran mahasiswa dan dosen, membangun kurikulum bersama dalam bidang ilmu lingkungan, dan mengembangkan program penelitian bersama dalam bidang-bidang pengelolaan DAS dan sistem irigasi lahan kering, konservasi hutan dan pilihan pengembangan agroforestry, ketahanan pangan dalam menghadapi iklim yang berubah, pengelolaan api dan ketahanan menghadapi bencana, perencanaan wilayah berbasis SIG, pengembangan pilihan penghidupan yang berkelanjutan, pengembangan tatakelola pengelolaan sumberdaya alam, dan pengembangan sumber energi terbarukan". "Eastern Indonesia and Northern Australia have shared interests, and UNDANA and CDU have much to gain from working together. Now is the time to show leadership at all levels. Let's take the opportunity", kata Prof. Cambel menutup paparan kuliah umumnya.

Kuliah tamu diakhir dengan sesi diskusi yang dipandu langsung oleh Rektor Undana Prof. Fred Benu. Minat mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan cukup tinggi, tetapi waktu yang tersedia terbatas sehingga Prof. Cambell hanya dapat menanggapi beberapa pertanyaan, di antaranya pertanyaan mengenai masalah pencemaran Laut Timor. Menjawab pertanyaan mengenai hal tersebut, Prof. Cambell kembali menandaskan pentingnya keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan dan perlunya peningkatan kerjasama antara Australia Utara dan Indonesia bagian Timur. Acara kuliah tamu diakhiri dengan jamuan makan malam yang diadakan oleh Program Pascasarjana Undana dengan dihadiri oleh Asisten Direktur I Bidang Akademik Prof. Jimmy Pello dan Asisten Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan Dr. Jauhari Effendi. Direktur Program Pascasarjana Prof. Alo Liliweri berhalangan hadir karena mengikuti pertemuan Forum Direktur Pascasarjana di Palu, Sulawesi Tenggara, sedangkan Asisten Direktur III Bidang Kerjasama tidak menghadiri kegiatan kuliah umum maupun jamuan makan malam dengan alasan sedang sibuk dengan urusan lain. Sebelum meninggalkan Kupang pada 27 Mei 2015 siang, Prof. Andrew Cambell sempat berkeliling kampus dan Kota Kupang dengan diantar sendiri oleh PR IV Undana Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D.

Sabtu, 30 Mei 2015

Pembantu Rektor IV Memberikan Kuliah Umum Mengenai Kerjasama di Universitas Mahasaraswati, Denpasar, Bali

Pada saat makan jamuan makan malam 2015 Secure Food Futures: Biosecurity and Food Security Summit di Made's Warung Restaurant pada hari pertama 21 Mei 2015, Rektor Universitas Mahasaraswati (Unmas) Dr. Drs. I Made Sukamerta, M.Pd., meminta mantan CEO Plant Biosecurity Cooperative Research Centre (PBCRC) Prof John Lovett dan PR IV Undana Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D., untuk memberikan kuliah umum di Universitas Mahasaraswati (Unmas). Permintaan yang sama diulangi lagi oleh Ketua Panitia 2015 Secure Food Futures: Biosecurity and Food Security Summit Dr. Ir. Eka Martiningsih, MSi., dilanjutkan oleh guru besar Unmas Prof. Dr. Kaler Surata, MSi. PR IV Undana diminta memberikan kuliah umum mengenai kerjasama karena selama menjabat yang belum genap satu tahun dinilai berhasil mengembangkan kerjasama Undana dengan berbagai pihak, khususnya dengan pihak luar negeri. Menanggapi permintaan memberikan kuliah umum tersebut, PR IV Undana menyanggupi untuk sekedar berbagi pengalaman mengingat kerjasama yang dibangun selama ini sebagian besar masih berupa rintisan dan sebagian yang sudah operasional merupakan kelanjutan dari kerjasama yang dirintis sebelumnya.

Kuliah umum berlangsung di Aula Unmas pada 23 Mei 2013 mulai pada pukul 9.00 WITA dan dibuka dan dimoderatori langsung oleh Rektor Unmas Dr. Drs. I Made Sukamerta, M.Pd. Dalam kata sambutannya yang disampaikan dalam bahasa Inggris, Rektor Unmas menggarisbawahi pentingnya kerjasama dan memaparkan sejumlah kegiatan kerjasama dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang telah dilaksanakan oleh Unmas. Antara lain beliau menguraikan peran Unmas dalam penetapan the Sistem Subak sebagai Manifestasi Filsafat Tri Hita Karana sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage), melalui kerjasama dengan Prof. Stephen Lansing dari University of Arizona, yang dengan dukungan dana dari National Science Foundation (NSF), telah melakukan penelitian mengenai subak sejak 1970-an dan menulis banyak buku dan artikel jurnal ilmiah mengenai sistem subak di Bali, antara lain Perfect Order: Recognizing Complexity in Bali, Priests and Programmers: Technologies of Power in the Engineered Landscape of Bali, The Balinese, and The Three Worlds of Bali. Untuk itu, kata Rektor Unmas, diperlukan berbagi pengalaman dengan universitas lain untuk terus meningkatkan kerjasama yang selama ini telah dirintis.

Dalam paparannya, Prof. John Lovett menjelaskan mengenai Plant Biosecurity Cooperative Research Centre (PBCRC) sebagai institusi yang memang dibangun dengan tujuan utama melakukan kerjasama. Cooperative Research Centre (CRC) merupakan program kerjasama yang dirintis Australia sejak 1990 untuk pengembangan industri yang melibatkan peneliti, industri, dan masyarakat. Saat ini terdapat 35 CRC aktif dalam bidang kesehatan, pengelolaan hama dalam arti luas, pengelolaan kebakaran dan bencana, pasar finansial, serta industri automotif dan luar angkasa. Kerjasama trilateral peneliti, industri, dan masyarakat tersebut telah menghasilkan banyak produk teknologi dan layanan baru yang dapat membantu mengatasi masalah penting ekonomi, lingkungan, dan sosial nyang dihadapi Australia. Di antara 35 CRC aktif tersebut, PBCRC, yang didirikan pada 2005 semula dengan nama Coperative Research Centre for National Plant Biosecurity (CRCNPB), mengkhususkan diri dalam kerjasama mengenai ketahanan hayati tumbuhan dalam kaitan dengan prioritas penelitian untuk menjaga Australia dari ancaman hama dan penyakit invasif serta ancaman kriminal dan terorisme.

Prof. Lovett menggarisbawahi kerjasama bidang pendidikan melalui pemberian beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S3 bidang ketahanan hayati di universitas-universitas anggota PBCRC. Melalui program beasiswa tersebut, PBCRC telah menghasilkan dua orang alumni (disebut PBCRC scholar) di Indonesia, yaitu Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D., dan Theofransus Litaay, SH, LLM, Ph.D., keduanya menyelesaikan S3 di Charles Darwin University. PBCRC akan terus berusaha meningkatkan kerjasama dengan universitas-universitas di Indonesia, khususnya dengan universitas-universitas yang tergabung dalam konsorsium ketahanan hayati. Pada kesempatan tersebut Prof. Lovett menjelaskan kerjasama dalam bidang deteksi dan peringatan dini yang akan dimulai dengan upaya untuk merealisasikan pemasangan mikroskop jarak jauh (remote microscope) di Undana yang sampai saat ini masih tertunda pelaksanaannya. Prof. Lovet menjanjikan akan mengusahakan pemasangan mikroskop jarak jauh tersebut dapat segera direalisasikan.

PR IV Undana memaparkan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam menggalang kerjasama. Langkah penting tetapi sering diabaikan adalah mengenali kekuatan dan kelemahan serta tantangan dan peluang. Berdasarkan analisis kekuatan, kelemahan, tantangan, dan peluang tersebut, universitas perlu menetapkan fokus kerjasama dan kemudian merencanakan serta menyiapkan infrastruktur dan pendanaan untuk pelaksanaan kerjasama. PR IV Undana selanjutnya memaparkan pengembangan lahan kering kepulauan sebagai fokus kerjasama Undana. Menurut PR IV Undana, Undana terletak pada lahan kering kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku bagian Selatan yang merupakan satu-satunya kawasan lahan kering yang terletak di wilayah kepulauan. Lahan kering lainnya seluruhnya berada di wilayah benua, termasuk lahan kering di sebagian besar wilayah benua Australia yang mendeterminasi wilayah lahan kering kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku bagian Selatan. Oleh karena itu, sudah seharusnya Undana menonjolkan keunikan lokasi geografiknya tersebut sebagai fokus kerjasama. Penonjolan kekhusuan lokasi geografik lahan kering kepulauan tersebut sejalan pula dengan tuntutan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sejumlah provinsi lainnya untuk diakui berstatus sebagai provinsi kepulauan oleh pemerintah pusat.

Dalam paparannya, PR IV Undana menggarisbawahi peranan dosen dalam merintis kerjasama, terutama dengan memulai kerjasama dengan universitas almamaternya. Untuk itu, ketika melanjutkan pendidikan, seorang dosen seharusnya tidak hanya sekedar mengejar lulus cum laude dalam waktu sesingkat-singkatnya, tetapi juga membangun jejaring dengan para dosen dan peneliti di universitas almamaternya. Dosen yang sedang melanjutkan studi juga perlu mempelajari struktur organisasi dan tatakelola pelaksanaan kerjasama oleh lembaga atau pusat penelitian di universitas almamaternya dan berusaha merintis hubungan dengan lembaga dan pusat penelitian tersebut. Setelah selesai mengikuti pendidikan, seorang dosen seharusnya tidak boleh putus hubungan dengan universitas almamaternya, melainkan terus menjalin hubungan, khususnya dengan lembaga atau pusat penelitian di universitas almamater masing-masing. Peranan universitas, menurut PR IV Undana, adalah memfasilitasi pelembagaan kerjasama yang dirintis oleh para dosen, bukan mencarikan proyek kerjasama untuk para dosen sebagaimana anggapan yang masih dipegang oleh banyak dosen sampai saat ini. PR IV Undana mencontohkan berbagai proyek kerjasama Undana dengan CDU, khususnya dengan Research Institute for the Environment and Livelihoods (RIEL) dan dengan The Northern Institute, yang dirintis jauh sebelum menjabat sebagai PR IV, yang kemudian ditingkatkan ketika melanjutkan studi di CDU.

Kuliah tamu yang semula direncanakan diisi oleh dua orang, dalam pelaksanaannya diisi oleh tiga orang karena menurut panitia, ada permintaan dari The Pacific Institute untuk memaparkan kerjasama dalam bidang hukum kesehatan. Pada kesempatan itu, Dr. ..., dari The Pacific Institute memaparkan peluang kerjasama pengembangan S2 dalam bidang hukum kesehatan untuk mengantisipasi permasalahan hukum yang dihadapi oleh institusi maupun praktisi kesehatan yang akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran hukum masyarakat. Pembukaan program S2 dalam bidang hukum kesehatan akan menjadi sumber pemasukan bagi universitas mengingat sampai saat ini masih sangat sedikit universitas yang membuka program S2 bidang hukum kesehatan. 

Acara kuliah tamu yang berlangsung dengan menggunakan bahasa Inggris diakhiri dengan pidato penutupan dan penyerahan cindra mata oleh Rektor Unmas, foto bersama, dan makan siang. Dalam pidato penutupannya, Rektor Unmas menyampaikan terima kasih atas kesediaan para narasumber untuk menyampaikan kuliah tamu pada pagi tersebut dan mengharapkan agar dirintis kerjasama yang semakin intensif dengan Unmas. Menanggapi hal tersebut, pada saat  foto bersama yang dilakukan di bagian depan aula dengan latar belakang spanduk kuliah umum, PR IV Undana menyampaikan kepada PR IV Unmas Dr. Ir. I Ketut Arnawa, MP, rencana kerjasama untuk membangun jaringan deteksi dan peringatan dini ketahanan hayati, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan yang akan dibicarakan lebih lanjut pada pertemuan selanjutnya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites