Gerbang Kampus

Selamat datang di kampus Universitas Nusa Cendana, Kampus Baru, Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang, NTT.

Rektorat Undana

Gedung Rektorat Undana tempat rektor, para pembantu rektor, para kepala biro dan jajarannya berkantor.

Kehidupan Kampus

Kampus Undana menyediakan fasilitas untuk mendorong mahasiswa aktif berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan kampus.

Praktikum Laboratorium

Undana menyelenggarakan pendidikan akademik dan pendidikan vokasi yang didukung dengan fasilitas memadai, di antaranya laboratorium.

Wisuda Sarjana dan Pascasarjana

Setiap tahun Undana mewisuda lulusan sarjana dan pascasarjana dari berbagai bidang ilmu dan pendidikan profesi.

Kamis, 15 Januari 2015

Undana Berupaya Memperoleh Dana Hibah Pengetahuan Hijau MCAI-Indonesia Melalui Konsorsium Lahan Sub-Optimal

Untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat, melalui Millennium Challenge Corporation (MCC), menandatangani Perjanjian Compact pada 19 November 2011. Sebagai tindak lanjut dari penandatangan perjanjian tersebut, dibentuk Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-I) untuk mengelola dan mengawasi penerapan Program Compact yang bertujuan mendukung tujuan pembangunan Pemerintah Indonesia melalui tiga proyek, yaitu (1) Proyek Modernisasi Pengadaan, (2) Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mengurangi Stunting, dan (3) Proyek Kemakmuran Hijau. Proyek Kemakmuran Hijau, terbesar dari tiga proyek Compact, memiliki kegiatan yang disebut Pengetahuan Hijau.

MCA-Indonesia, melalui Kegiatan Pengetahuan Hijau, menawarkan hibah untuk kegiatan yang akan berinvestasi dalam proyek-proyek yang terkait dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja, peningkatan kapasitas, bantuan teknis, pengumpulan dan penyebaran pengetahuan yang berhubungan dengan satu (atau lebih) isu utama Kemakmuran Hijau (energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam, dan pertanian berkelanjutan). Untuk memperoleh calon penerima hibah potensial, MCA - Indonesia menyampaikan Undangan Pernyataan Minat (Call for Expression of Interest, CfEOI) yang mencakup dua kategori hibah, yaitu (1) Hibah Peningkatan Keterampilan Tenaga Kerja Berwawasan Lingkungan dan (2) Hibah untuk Pengumpulan dan Penyebaran Pengetahuan Hijau. Bagi kedua kategori hibah tersebut, MCA-Indonesia memberikan dana hibah dalam kisaran nilai USD 200.000 sampai USD 4.000.000 untuk setiap proyek. Seluruh kategori memiliki persyaratan pendanaan bersama. Penjelasan rinci tentang persyaratan pendanaan bersama dapat ditemukan di dalam paket dokumen lengkap Undangan Pernyataan Minat.


Untuk menangkap peluang memperoleh dana hibah tersebut, Konsorsium Lahan Kering Bali-Nusa Tenggara melaksanakan pertemuan di Sekretariat Konsorsium, Kampus Unram, Mataram, NTB, pada 8 Januari 2015. Pertemuan tersebut, selain dihadiri oleh perwakilan anggota konsorsium, juga dihadiri olehn Prof. Poppy Ismalina Ph.D., Associate Director of Green Knowledge, Green Prosperity Project MCA-I, dan 2 staf MCA-I, yaitu Ir. Nunung Nuryartono, Ph,D dan Ir. Iqbal, Ph.D. Pertemuan menyepakati untuk menyiapkan proposal bersama yang diawali dengan penyusunan konsep proyek (concept note) setebal sekitar 10 halaman sebagai bagian dari syarat pernyataan minat yang juga memuat surat pengantar dan gambaran umum konsorsium. Konsep proyek  memuat latar belakang dan tujuan pembentukan konsorsium yang disipakan oleh Sekretariat Konsorsium yang akan dilengkapi dengan: (1) daftar hasil identifikasi pengetahuan-pengetahuan lokal dan (2) daftar inventarisasi hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan di setiap universitas. Konsep proyek diharuskan memperhatikan persyaratan pendanaan bersama dengan menyertakan dana padanan dalam bentuk tunai maupun in-kind. Kontribusi in-kind meliputi: (1) sumbangan jasa, termasuk dedikasi waktu relawan dalam proyek; (2) donasi materi; (3) donasi atau pinjaman peralatan; (4)  donasi atau pinjaman ruang yang tidak dimiliki oleh penerima; (5) materi, peralatan yang dibeli khusus untuk proyek; (6) biaya sewa untuk peralatan dan ruang; (7) kontrak jasa; (8) gaji penerima; dan (9) asset tetap yang dimiliki penerima.

MCA-I menetapkan bahwa pelaksanaan Hibah Pengetahuan Hijau harus dilakukan di wilayah fokus MCA-I yang mencakup provinsi-provinsi Jambi (kabupaten-kabupaten Muaro Jambi, Merangin, Kerinci, dan Tanjung Jabung Timur), Sulawesi Barat (kabupaten-kabupaten Mamuju dan Mamasa), Nusa Tenggara Timur (kabupaten-kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Timur), dan Nusa Tenggara Barat (kabupaten-kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara). Mengingat wilayah fokus pelaksanaan tersebut tidak seluruhnya merupakan lahan kering maka keikutsertaan Konsorsium Lahan Kering Bali-Nusa Tenggara dalam program hibah tersebut dilakukan melalui konsorsium yang lebih besar, yaitu Konsorsium Lahan Sub-Optimal yang juga mencakup Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai koordinator, Universitas Jambi (Unja), dan Universitas Hasanuddin (Unhas). Partisipasi Konsorsium Lahan Kering Bali-Nusa Tenggara dalam program hibah MCA-I tersebut selanjutnya akan dilakukan melalui konsorsium yang lebih besar tersebut.


Pelaksanaan Pertemuan Konsorsium di Unram tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan kunjungan perwakilan MCA-I ke Undana pada 12 Januari 2015. Dalam kunjungan tersebut,  Prof. Poppy Ismalina Ph.D., selaku Associate Director of Green Knowledge, Green Prosperity Project MCA-I, kembali memaparkan program hibah Pengetahuan Hijau. Paparan tersebut dilanjutkan dengan pertemuan teknis seputar penyiapan konsep proyek antara Ir. Nunung Nuryartono, Ph,D, dan Ir. Iqbal, Ph.D. yang mewakili MCA-I dan Dr. Muhammad S.M. Nur yang mewakili Undana. Untuk menindaklanjuti pertemuan konsorsium di Unram dan kunjungan perwakilan MCA-I ke Undana tersebut, PR IV Undana telah menggelar rapat yang menghadirkan utusan fakultas, lembaga penelitian, lembaga pengabdian pada masyarakat, dan program pascasarjana, dengan Laboratorium Lapangan Terpadu Lahan Kering Kepulauan (LLTLKK) sebagai unit pelaksana teknis. Dalam pertemuan yang dipimpin oleh PR IV tersebut, Dr. Muhammad S.M. Nur selaku Kepala LLTLKK memaparkan program hibah Pengetahuan Hijau dari MCA-Indonesia melalui konsorsium kepada peserta pertemuan sebagai bentuk sosialisasi sebagaimana yang telah disepakati dalam pertemuan konsorsium sebelumnya di Unram.

Beberapa catatan kritis disampaikan oleh peserta rapat, di antaranya mengenai posisi Undana dalam konsorsium dan pengajuan catatan proyek kepada MCA-I tanpa melalui konsorsium. Seorang peserta rapat menggarisbawahi perlunya aturan yang jelas agar keikutsertaan Undana dalam konsorsium tidak hanya sekedar sebagai pelaksana proyek, tetapi juga harus ikut menentukan pengelolaan pelaksanaan proyek. Mengenai pengajuan catatan proyek tanpa melalui konsorsium, seorang peserta menyampaikan bahwa hal tersebut dimungkinkan sesuai dengan ketentuan Hibah Pengetahuan Hijau. Menyikapi catatan kritis tersebut disepakati bahwa untuk menjamin agar Undana berperan bukan sekedar sebagai pelaksana proyek, perlu terlebih dahulu dibuat nota kesepakatan yang mengatur peran setiap anggota konsorsium. Pengajuan catatan proyek tanpa melalui konsorsium lahan sub-optimal dapat dilakukan melalui setiap unit di lingkungan Undana, tetapi pengajuan secara resmi oleh Undana akan dilakukan melalui konsorsium tersebut. Perwakilan fakultas, lembaga penelitian, lembaga pengabdian pada masyarakat, dan program pascasarjana akan menyampaikan kepada dosen yang berminat berpartisipasi untuk menyampaikan topik atau judul, lokasi, tujuan, prakiraan pendanaan, dan waktu pelaksanaan pada 19-23 Januari 2015 untuk kemudian akan dirangkum dan disampaikan kepada sekretariat konsorsium pada 26 Januari 2015 untuk memenuhi ketentuan batas waktu pengiriman yang ditetapkan oleh MCA-I.

Informasi lebih lanjut mengenai Program Hibah Pengetahuan Hijau dapat diperoleh dari website MCA-I atau dengan mengugungi MCA-I melalui email. Informasi yang berkaitan dengan kewajiban Undana untuk mengidentifikasi pengetahuan lokal dan menyusun daftar hasil penelitian terkait yang dapat ditanyakan melalui kotak komentar di sebelah bawah tulisan ini.

Undana Bergabung dalam Konsorsium Lahan Kering Bali-Nusa Tenggara

Menjelang akhir tahun 2014, PR IV Undana diundang untuk menghadiri Lokakarya Pembentukan Konsorsium Lahan Kering Bali-Nusa Tenggara yang diinisiasi oleh PR IV Universitas Mataram, Prof. Ir. Suwardji, Ph.D . Sebagai universitas yang mengembangkan pola ilmiah pokok lahan kering kepulauan, PR IV Undana menyambut baik inisiatif tersebut. Tetapi karena pada saat yang bersamaan harus mendampingi Rektor dalam kunjungan ke Kabupaten Sumba Barat Daya, PR IV berkonsultasi dengan Rektor untuk memutuskan yang akan mewakili Undana dalam lokakarya tersebut. Mengingat sebelumnya Undana telah membentuk Laboratorium Lapangan Terpadu Lahan Kering Kepulauan (LLTLKK) dan telah melantik Dr. Ir. Muhammad S.M. Nur, MSi., sebagai kepalanya maka diputuskan untuk menunjuk Kepala LLTLKK untuk mewakili Undana dalam lokakarya yang diselenggarakan pada 20 Desember 2014 di Unram, Mataram, NTB.

Laporan risalah lokakarya yang disampaikan oleh Dr. Muhammad S.M. Nur menyatakan bahwa pembentukan konsorsium tersebut dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa lahan di kawasan Bali dan Nusa Tenggara didominasi oleh lahan kering. Lahan kering di wilayah tersebut telah berperan signifikan dalam menunjang ketahanan pangan nasional, terutama bagi masyarakat di wilayah yang bersangkutan. Menyadari hal tersebut, Universitas Udayana (Unud), Universitas Mataram (Unram), dan Universitas Nusa Cendana (Undana) sebagai perguruan tinggi di wilayah ini memiliki tanggungjawab dalam mengoptimalkan penggunaan lahan kering melalui pelaksanaan penelitian dan implementasi hasil-hasil penelitian melalui pengabdian kepada masyarakat yang dapat menunjang ketahanan pangan masyarakat, khususnya masyarakat setempat.

Untuk meningkatkan sinergi kinerja ketiga universitas ini dalam berbagai aspek penelitian lahan kering untuk menunjang ketahanan pangan nasional maka perlu dibentuk suatu konsorsium penelitian tata kelola pertanian lahan kering. Pembentukan konsorsium ini mengikutsertakan Universitas Sriwijaya (Unsri) yang telah memiliki pengalaman dalam bidang penelitian lahan kering beriklim basah, sekaligus berpengalaman dalam pengelolaan publikasi hasil-hasil penelitian lahan kering melalui Jurnal Penelitia Lahan Sub-Optimal. Konsorsium yang dibentuk secara bersama-sama akan memperjuangkan slot pendanaan bersama dari Kementerian Ristek dan Dikti mulai pada 2015, baik untuk pelaksanaan penelitian maupun  pelaksanaan lokakarya atau konverensi berskala nasional dan internasional. Hasil-hasil penelitian dari konsorsium ini diharapkan dapat menjawab permasalahan pembangunan pertanian lahan kering, baik dalam skala lokal maupun skala nasional. Selain itu juga diharapkan dapat menghasilkan sejumlah artikel untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah nasional ataupun internasional.

Loakakarya Pembentukan Konsorsium Lahan Kering Bali-Nusa Tenggara tersebut didahului dengan pemaparan sejumlah makalah yang berkaitan dengan kondisi lahan kering, pemanfaatan lahan kering, dan kebijakan universitas dalam pengembangan lahan kering di wilayah yang bersangkutan. Makalah yang disajikan adalah Potensi Lahan Marginal Menunjang Ketahanan Pangan oleh Dr. Ir. Enrizal Sadikin (Unsri), Kebijakan Penelitian Pengembangan Lahan Kering Berbasis Kepulauan Semi Ringkai oleh Dr. Ir. M.S. Mahmuddin Nur, M.Si (Undana), Teknik Budidaya Pertanian Lahan Kering untuk Peningkatan Produksi Pangan Nasional oleh Prof. Ir. Mas Sri Agung Ph.D (Unud), dan Pengarusutamaan Pengembangan Pertanian Lahan Kering, Pengalaman Praktis di Nusa Tenggara oleh Prof. Ir. Suwardji, Ph.D (Unram).

Lokakarya menyepakati akan segera memproses nota kesepahaman pembentukan konsorsium oleh sekretariat untuk ditandatangani pimpinan setiap universitas. Selain itu juga akan disusun format isian rencana tindak lanjut (RTL) kegiatan tahun 2015-2019 yang akan dikirimkan oleh sekretariat konsorsium ke perwakilan setiap universitas untuk diisi dan dilengkapi dan dikembalikan ke sekretariat konsorsium.

Sabtu, 03 Januari 2015

Survei Cepat Penambangan Mangan Rakyat di DAS Noelmina: Untuk Menentukan Lokasi Survei Lengkap pada 2015

Setelah menyelesaikan survei uji coba di DAS Tilong, tim penelitian penambangan mangan rakyat juga melaksanakan survei cepat (quick survey) di DAS Noelmina, DAS yang ditetapkan sebagai lokasi utama penelitian. Survei kembali dipimpin oleh Ir. Remi L. Natonis, MSi., dengan beberapa anggota yang berbeda dengan anggota yang terlibat pada survei uji coba di DAS Tilong. Beberapa anggota tim survei uji coba DAS Tilong tidak dilibatkan dengan mempertimbangkan sulitnya medan yang harus ditempuh pada awal musim hujan, yaitu Desember 2014. Survei cepat ini dimaksudkan untuk menentukan desa/kelurahan di dalam DAS Noelmina di mana banyak dilakukan penambangan mangan rakyat, selain juga untuk menggali informasi dasar mengenai penambangan mangan rakyat di dalam DAS tersebut. Survei yang mulai dilaksanakan pada pertengahan Desember 2014 tertunda penyelesaiannya karena kendala musim hujan sehingga baru dapat diselesaikan pada pertengahan Januari 2015.

Survei dilaksanakan di 17 kecamatan yang mempunyai desa/kelurahan yang wilayahnya termasuk dalam DAS Noelmina. Mula-mula dilakukan wawancara dengan petugas kecamatan yang mempunyai informasi mengenai penambangan mangan untuk menentukan desa/kelurahan yang perlu dikunjungi lebih lanjut. Berdasarkan atas informasi dari petugas kecamatan kemudian dilakukan kunjungan ke desa/kelurahan yang menurut informasi dari kecamatan merupakan lokasi penambangan mangan rakyat. Di setiap desa/kelurahan selanjutnya dilakukan wawancara dengan aparat pemerintahan desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan anggota masyarakat yang pernah terlibat dalam penambangan mangan. Pertanyaan berkisar di seputar nama lokasi penambangan, kegiatan penambangan dan keterlibatan para pihak, serta dampak penambangan terhadap penghidupan masyarakat. Lokasi kecamatan dan desa/kelurahan tempat dilakukan wawancara disajikan pada peta berikut.


Sampai saat ini kunjungan telah dilaksanakan ke 14 dari 17 kecamatan yang wilayahnya tercakup dalam DAS Noelmina. Tiga kecamatan yang belum dapat dikunjungi adalah Kecamatan Fatumnasi, Kecamatan Numbena, dan Kecamatan Mollo Barat, ketiganya di Kabupaten TTS. Ketiga kecamatan tersebut belum dapat dikunjungi karena kendala cuaca dan prasarana transportasi. Jalan ke Fatumnasi mengalami kerusakan sangat berat sehingga tidak aman bila ditempuh dalam cuaca berkabut mengingat desa tersebut terletak pada ketinggian sekitar 1.600 m di atas permukaan laut. Dua kecamatan lainnya, yaitu Mollo Barat dan Nunbena belum dapat dikunjungi karena harus melalui sungai besar yang belum mempunyai jembatan sehingga untuk melintasinya terkendala oleh banjir.

Data yang diperoleh pada saat ini sedang dalam proses transkripsi dan tabulasi. Secara umum dapat disampaikan bahwa penambangan mangan terdapat di seluruh kecamatan, meskipun di Kabupaten Kupang penambangan mangan dilarang oleh pemerintah kabupaten. Lokasi tambang di setiap desa yang dikunjungi tersebar di banyak tempat dengan jarak dari pusat desa berkisar dari cukup dekat sampai sangat jauh. Penambangan pada umumnya dilakukan sebagai pekerjaan sambilan pada musim kemarau ketika masyarakat telah selesai melakukan panen dan belum mulai melakukan pembukaan lahan untuk musim tanam berikutnya.  Penambangan juga dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana, terutama linggis untuk menggali lubang dan mencungkil batuan mangan, dilakukan di lahan sendiri maupun di lahan milik keluarga, tanpa menggunakan perlengkapan keamanan apapun selayaknya yang digunakan oleh penambang. Batuan mangan diangkut ke lokasi pengumpulan atau ke rumah untuk menunggu pedagang perantara yang akan datang membeli.

Mengingat sebaran penambangan mangan yang tersebar luas di seluruh DAS maka perlu dipikirkan rancangan pengambilan sampel yang akan digunakan pada saat pelaksanaan survei yang akan dilaksanakan pada pertengahan 2015. Mungkin perlu ditentukan sejumlah desa/kelurahan yang akan mewakili bagian hulu, tengah, dan hilir DAS. Dalam menentukan desa/kelurahan sampel, selain merupakan desa/kelurahan tempat penambangan, juga perlu dipertimbangkan prasarana jalan yang tersedia ke desa/kelurahan yang bersangkutan. Juga perlu dipertimbangkan berbagai isu yang terjadi berkaitan dengan penambangan rakyat, khususnya yang berkaitan dengan dampak positif dan dampak negatif yang terjadi terhadap lingkungan hidup dan penghidupan masyarakat.

Pada saat ini edang dilakukan transkripsi dan tabulasi terhadap data yang diperoleh dari survei cepat yang belum seluruhnya dapat diselesaikan. Setelah transkripsi dan tabulasi selesai dilaksanakan, data akan dimasukkan ke dalam peta sehingga ketika nama desa pada peta diklik maka data dasar yang berkaitan dengan penambangan mangan yang dilakukan oleh masyarakat di desa tersebut dapat diperoleh. Data dasar yang akan disajikan meliputi lokasi areal tambang, tahun mulai dilakukan penambangan, hasil yang diperoleh setiap penambang, harga batu mangan, dan kecelakaan kerja yang pernah terjadi dan korban jiwa bila ada. Informasi lengkap mengenai penambangan mangan di DAS Noelmina akan diinformasikan setelah selesai dilaksanakan survei lengkap pada pertengahan 2015.


Rabu, 31 Desember 2014

Survei Uji Coba Penelitian Penambangan Mangan Rakyat di DAS Tilong: Pemantapan Metodologi Sebelum Survei Sebenarnya di DAS Noelmina

Survei uji coba (pilot survey) di DAS Tilong, DAS kecil yang di bagian hilirnya terdapat Bendung Tilong, bendung pemasok kebutuhan air baku bagi sebagian Kota Kupang, dilaksanakan sebagai bagian dari pelaksanaan penelitian dampak penambangan mangan rakyat di Timor Barat. Penelitian dampak penambangan mangan rakyat tersebut merupakan bagian dari penelitian dampak penambangan rakyat yang melibatkan peneliti dari Charles Darwin University (CDU), Australian National University (ANU), Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Halu Oleo (UHO) yang mencakup penambangan mangan di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan penambangan emas di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra). Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati, survei uji coba ini dilaksanakan pada Oktober-November 2014. Tujuan dari survei uji coba ini adalah untuk memantapkan metodologi yang akan digunakan nanti pada pelaksanaan survei yang sebenarnya pada 2015.

Survei uji coba ini dipimpin oleh Remi L. Natonis, SP, MSi., dan dikoordinasikan oleh oleh anggota tim inti, Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D., melibatkan dosen dan mahasiswa dari program studi agroteknologi dan agribisnis, Fakultas Pertanian, dan program studi pertambangan, Fakultas Sains dan Teknik. Metodologi yang diuji coba penggunaannya adalah metode penilaian areal tambang, metode wawancara, dan metode pengukuran erosi yang telah dirancang pada penelitian fase pendahuluan yang dilaksanakan pada 2012-2013 sebelumnya di seluruh kabupaten/kota di Timor Barat. Uji coba dilakukan untuk mengetahui kinerja penggunaan metode serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam penerapannya di lapangan. Berdasarkan atas temuan dari survei uji coba ini akan dilakukan penyempurnaan metode yang nanti akan digunakan pada survei sebenarnya yang akan dilaksanakan di DAS Noelmina pada 2015.

Medan yang ditempuh berbukit sampai bergunung. Berjalan kaki di hamparan padang dan belukar yang gersang pada puncak musim kemarau memang tidaklah mudah. Maklum, lokasi areal tambang mangan pada umumnya terletak jauh dari permukiman penduduk, jauh pula dari jalan, sehingga satu-satunya yang dapat dilakukan adalah berjalan kaki belasan kilometer untuk menuju areal penambangan. Perjalanan harus pula ditempuh melalui lereng bukit, badan sungai kering, dan padang yang sejauh mata memandang tidak ada pepohonan. Sesampainya di lokasi, anggota tim harus melakukan pengukuran kedalaman setiap lubang galian tambang, harus mengukur luas setiap lubang tambang dengan menggunakan alat penerima GPS, semuanya harus dilakukan di bawah terik matahari karena pohon-pohon yang seharusnya bisa menjadi peneduh sedang tidak berdaun. Kendala yang berbeda tentu akan dialami bila survei dilakukan pada musim hujan sehingga penentuan waktu survei yang tepat menjadi sangat penting agar metodologi yang sudah dirancang dapat digunakan secara optimal.



Pada siang hari musim kemarau seperti ini, anggota masyarakat umumnya sibuk membuka lahan yang dilakukan dengan cara menebas belukar, dibiarkan mengering, untuk kemudian dibakar. Ketika pulang, mereka membawa dedaunan pohon yang dipangkas untuk digunakan sebagai pakan sapi. Pada musim kemarau seperti ini, rumput mengering sehingga penduduk mengandalkan jenis-jenis pohon tertentu, di antaranya beringin dan kabesak, sebagai hijauan pakan. Mereka juga pulang dengan membawa kayu bakar, yang disishkan dari potongan belukar yang ditebang di lokasi mereka membuka ladang. Sesampai di rumah, kamum ibu dan anak-anak masih harus berjalan jauh lagi, karena sungai-sungai mengering, untuk pergi ke mata air untuk mengambil air untuk minum dan masak. Larut malam mereka baru bisa berkumpul dengan keluarga. Karena itu, wawancara sebaiknya dilakukan pada malam hari dan pada pagi hari ketika sebagian besar anggota masyarakat masih berada di eumah.



Pada saat dilakukan survei uji coba, aktivitas penambangan mangan di DAS Tilong sedang dihentikan karena konflik antar kelompok yang terjadi sebelumnya. Penambangan mangan memang rawan menimbulkan konflik, terutama karena status penguasaan lahan yang rumit. Konflik seperti itu ada yang bisa diselesaikan secara adat, tetapi ada juga yang penyelesaiannya melalui jalur hukum. Karena sedang tidak ada aktivitas penambangan maka selama survei tidak ditemukan ada aktivitas penambangan, melainkan hanya lubang tambang, baik lubang baru maupun lubang lama. Karena itu pula tidak dapat diketahui bagaimana cara penambangan dilakukan, meskipun pada umumnya dengan cara menggali lubang vertikal. Hanya di beberapa tempat ditemukan lubang horizontal, khususnya di lereng tebing bukit atau di tebing sungai.

Pengukuran erosi dilakukan dengan metode pemasangan paku, yaitu dengan memasang paku kuran besar pada beberapa jalur transek dengan jarak antar jalur yang diketahui dan panjang setiap jalur juga diketahui. Paku dipasang sampai kepala paku rata dengan permukaan tanah dan kemudian setelah musim hujan diukur jarak kepala paku timbul di atas permukaan tanah. Erosi kemudian diukur sebagai jumlah jarak antar transek dikalikan dengan panjang transek dan dikalikan lagi dengan tinggi kepala paku muncul dari permukaan tanah. Cukup sederhana, tetapi permukaan lahan tidak rata sehingga hasil pengukuran dengan teknik ini merupakan pengukuran pendekatan. Kendala yang dihadapi baru bisa diketahui setelah nanti dilakukan pengukuran terakhir setelah musim hujan.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa penambangan mangan rakyat merupakan pekerjaan yang dilakukan terutama pada musim kemarau setelah selesai panen. Penambangan dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat sebagai pekerjaan sambilan dengan menggunakan peralatan sederhana linggis dan tanpa menggunakan alat pengaman apapun. Batuan mangan yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk dipikul dibawa pulang ke rumah. Pembeli biasanya datang ke rumah penduduk dan batuan mangan dijual dengan harga sekitar Rp 1.000,-/kg. Bukan harga yang sangat menarik, tetapi di tengah langkanya sumber pendapatan tunai maka hasil penambangan mangan menjadi sangat berarti sebagai sumber pendapatan tunai rumah tangga.

Sabtu, 20 Desember 2014

Bersama PR I Mendampingi Rektor Berkunjung ke Kabupaten Sumba Barat Daya

Untuk meningkatkan kerjasama dengan Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Rektor Undana Prof. Fred Benu melakukan kunjungan pada 17 Desember 2014. Pada kunjungan tersebut, Rektor didampingi oleh dengan didampingi PR I Dr. David B.W. Pandie, PR IV Dr. I Wayan Mudita, dan staf. Dalam waktu yang hampir bersamaan, kunjungan yang sama juga dilakukan ke kabupaten lainnya oleh pimpinan unit Undana lainnya. Secara lebih khusus, kunjungan ke Kabupaten SBD dimaksudkan untuk untuk memantapkan rencana pembukaan program Pendidikan Di luar Domisili (PDD) Undana dan program Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar (PPKHB) bagi guru di kabupaten tersebut. Di Bandara Tambolaka rombongan Undana disambut oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) beserta staf. Dari bandara, rombongan menuju ke hotel dan kemudian menuju ke Kantor Bupati SBD.



Di Kantor Bupati, rombongan diterima oleh Bupati di ruang kerjanya. Pada kesempatan itu Rektor menyampaikan tujuan kunjungan dan menegaskan komitmen Undana untuk membuka program PDD di Kabupaten SBD. Selain itu Rektor juga menegaskan komitmen Undana untuk menyelengggarakan program PPKHB bagi guru-guru di Kabupaten SBD. Juga disampaikan kesempatan yang akan diberikan kepada lulusan SMA/SMK di Kabupaten SBD untuk masuk Undana melalui jalur bakat olahraga dan seni serta jalur masuk Fakultas Kedokteran melalui beasiswa ikatan dinas pemerintah kabupaten. Bupati SBD menyambut baik komitmen Undana tersebut dan berjanji untuk menindaklanjuti. Berkaitan dengan pembukaan program PDD, Rektor dan Bupati bersepakat untuk mencari jalan keluar yang tepat dan aman berkaitan dengan kerjasama pengelolaan dan pendanaan yang selama ini menjadi kendala. Dari ruang kerja Bupati, rombongan berpindah ke ruang Acara Perayaan HUT Dharma Wanita Persatuan Kabupaten SBD untuk makan siang bersama.


Seusai makan siang, rombongan kembali ke ruang kerja Bupati untuk membahas pemantapan program PDD dan program PPKHB serta program kerjasama lainnya. Bupati menyampaikan komitmen penyediaan dana APBD untuk penyelenggaraan program PDD tersebut, tetapi memerlukan pembahasan lebih lanjut mengenai mekanisme penggunaannya. Berkaitan dengan program PPKHB, Kepala Dinas PPO melaporkan jumlah guru yang telah mengikuti program tersebut yang ternyata bahwa persentasenya masih sangat rendah sehingga memerlukan terobosan untuk meningkatkannya. Selain itu juga dibahas penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Mengengah Daerah (RPJMD) yang harus disusun Bupati dalam waktu paling lambat 3 bulan setelah pelantikan dan dukungan Undana terhadap program peningkatan produksi ternak di Kabupaten SBD melalui inseminasi buatan dan penyediaan hijauan makanan ternak. Pada kesempatan tersebut PR IV menyampaikan permasalahan penyakit darah pada tanaman pisang yang diisukan menyebabkan orang meninggal dunia. Menanggapi hal tersebut, Bupati mengharapkan agar Undana berkenan membantu. Rektor menyampaikan bahwa Undana akan menindaklanjuti dengan membentuk tim khusus penyusunan RPJMD dan akan mengirimkan dua orang tenaga ahli untuk mengumpulkan informasi lebih rinci mengenai keberadaan penyakit darah pada tanaman pisang tersebut.

Pertemuan kemudian dilanjutkan di ruang rapat untuk membahas program PPKHB bersama staf Dinas PPO dan dengan dihadiri oleh sejumlah kepala sekolah. Pada kesempatan tersebut Rektor kembali menyampaikan komitmen Undana untuk membuka program PDD dan program PPKHB di Kabupaten SBD serta program bagi lulusan SMA/SMK Kabupaten SBD untuk masuk Undana melalui jalur khusus bakat dalam bidang olahraga dan seni serta masuk Fakultas Kedokteran melalui beasiswa ikatan dinas pemerintah kabupaten. Selanjutnya Rektor meminta PR I untuk memaparkan mekanisme penyelenggaraan program PPKHB selama ini dan upaya yang masih perlu dilakukan untuk meningkatkan partisipasi guru dari Kabupaten SBD dalam program tersebut. PR I menggarisbawahi partisipasi guru yang persentasenya masih sangat rendah dan meminta komitmen Dinas PPO untuk meningkatkannya untuk memenuhi ketentuan pemerintah mengenai penuntasan program tersebut pada 2015. Mananggapi hal tersebut, Kepala dan staf Dinas PPO berjanji akan melakukan terobosan untuk memenuhi ketentuan tersebut.


Keesokan harinya rombongan bertemu dengan Wakil Ketua DPRD Kabupaten SBD yang berkenan hadir di hotel. Wakil Ketua DPRD menyampaikan permohonan maaf tidak berkesempatan hadir pada pertemuan dengan Bupati dan ingin memperoleh informasi mengenai hal-hal yang telah disepakati pada hari sebelumnya. Menanggapi hal tersebut Rektor menyampaikan dapat memaklumi ketidakhadiran Wakil Ketua DPRD sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bupati. Rektor menyampaikan komitmen mengenai pembukaan program PDD, pemantapan program PPKHB, penyusunan RPJMD, peningkatan produksi ternak melalui inseminasi buatan dan penyediaan hijauan makanan ternak, dan penanggulangan penyakit darah pada tanaman pisang. Wakil Ketua DPRD menyampaikan bahwa akan lebih mantap bila pada pertemuan dengan Bupati langsung dibahas mekanisme pelaksanaannya, tetapi bila hal tersebut belum dibahas, Wakil Ketua akan membantu mengawal pembahasan mekanisme pelaksanaannya.

Pada perjalanan kembali ke Kupang, rombongan secara kebetulan bertemu dengan Bupati Sumba Barat yang ketika itu dalam perjalanan dinas ke Kupang. Bupati menyampaikan kepada Rektor bahwa bila program PDD tidak dapat dibuka di Kabupaten SBD, Kabupaten Sumba Barat siap untuk menjadi lokasi pengganti. Menanggapi hal tersebut Rektor menyampaikan bahwa hal yang sama juga disampaikan oleh Bupati Sumba Timur, tetapi itu tidak mudah mengingat diperlukan ijin dari kementerian. Rektor berjanji akan menggalang kerjasama dalam bidang lain dengan Kabupaten Sumba Barat, khususnya program PPKHB, penerimaan mahasiswa melalui jalur khusus, dan dukungan pengembangan pertanian dan peternakan.


Keberangkatan ke Kupang mengalami penundaan lama karena turun hujan sangat lebat sehingga pesawat tidak dapat mendarat dan rombongan harus menunggu kedatangan pesawat berikutnya.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites