Gerbang Kampus

Selamat datang di kampus Universitas Nusa Cendana, Kampus Baru, Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang, NTT.

Rektorat Undana

Gedung Rektorat Undana tempat rektor, para pembantu rektor, para kepala biro dan jajarannya berkantor.

Kehidupan Kampus

Kampus Undana menyediakan fasilitas untuk mendorong mahasiswa aktif berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan kampus.

Praktikum Laboratorium

Undana menyelenggarakan pendidikan akademik dan pendidikan vokasi yang didukung dengan fasilitas memadai, di antaranya laboratorium.

Wisuda Sarjana dan Pascasarjana

Setiap tahun Undana mewisuda lulusan sarjana dan pascasarjana dari berbagai bidang ilmu dan pendidikan profesi.

Kamis, 31 Juli 2014

Pelatihan FrontlineSMS dan Sistem Informasi Geografik: Kesan sebagai Peserta

Penulis Kontribusi: Norman Riwu Kaho, Dosen Fakultas Pertanian Undana.

Sekitar pukul 19.00 WITA pada 15 Juli 2014, nada dering ponsel saya berbunyi dan tersua pesan singkat dari seorang dosen senior yang mengharapkan kehadiran saya sebagai peserta untuk mengikuti kegiatan pelatihan selama 2 hari (16 s/d 17 Juli 2014) mengenai sistem informasi geografik (SIG/GIS) yang merupakan kerjasama UNDANA dan Charles Darwin University (CDU), Australia. Sejujurnya, saya agak enggan untuk menghadiri pelatihan tersebut karena memikirkan waktu 2 hari pelatihan tersebut dapat digunakan untuk sekedar berleha-leha di rumah. Tetapi karena merasa tak enak hati dengan ajakan senior, saya mengiyakan saja permintaan tersebut. Namun keengganan ini lantas sirna seketika, ketika keesokan paginya (16/7/2014) saya datang ke lokasi kegiatan dan menemukan spanduk yang bertuliskan “Pelatihan Penggunaan FrontlineSMS dan Geographic Information System (GIS)”. Wah.. ini sesuatu yang baru bagi saya dan seketika saya berpikir pasti ada yang spesial sehingga perlu diangkat sebagai tema pelatihan. Selain itu, peserta pelatihan yang datang dari berbagai latar belakang, baik sebagai akademisi kampus maupun LSM dan bahkan juga mengikutsertakan beberapa mahasiswa, makin menambah ketertarikan sekaligus keingintahuan saya lebih lanjut.

Hari pertama, setelah melewati beberapa seremoni, dihabiskan untuk melihat contoh proyek penggunaan FrontlineSMS untuk wilayah Timor Barat, Sumba dan Flores untuk isu pelayanan kesehatan ibu hamil dan mencoba untuk mempraktikkan pengoperasian aplikasi ini. Silahkan mencari sendiri informasi lebih detail mengenai aplikasi ini, tetapi aplikasi ini benar-benar  “CERDAS, MURAH, MUDAH, dan APLIKATIF”. Maaf, ini bukan bahasa iklan dan tidak mengajak pembaca sekalian untuk menemukan tagline ini pada website manapun karena ini merupakan pendapat pribadi saya. Mari kita runut satu-per satu. Saya katakan CERDAS paling tidak karena 2 hal, pertama, cukup hanya dengan menggunakan tools yang sangat sederhana, yaitu ponsel dan layanan SMS (short message services) yang telah digunakan secara luas di seantero pelosok, dan kedua, persoalan broadcasting komunikasi yang selama ini seringkali menjadi permasalahan primer dapat terurai dengan bantuan aplikasi ini. Apalagi, dewasa ini sinyal ponsel telah menjangkau hingga keberbagai pelosok perdesaan di NTT, bahkan terkadang mencakup tempat yang tergolong sebagai “remote area”. Aksesibilitas dari-dan-menuju tempat-tempat seperti itu selama ini sangat sulit, tetapi kini penggunaan SMS telah menjadi bentuk komunikasi standar yang dapat mengintegrasikan hampir semua orang dan di segala tempat. Provinsi NTT mempunyai jumlah pulau yang mencapai 1.192 serta karakteristik pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh lautan yang luas, belum lagi luas lautan yang mencapai 2/3 dari total seluruh wilayah NTT. Belum lagi, karakteristik iklim semi-arid dengan pola monsoonal, dominasi kawasan pegunungan dan perbukitan dengan kelas lereng mencapai 26-40% (agak curam s/d curam), serta kondisi sosekbud dan demografi yang makin menambah kerumitan dalam mencari alternative tools lain dalam mengintegrasikan serta menyebarkan informasi. Menghadapi kondisi seperti ini, saya yakin FrontlineSMS ini dapat memberikan solusi. Sebagai contoh, jika anda ingin mengetahui tentang informasi mengenai harga pupuk, maka cukup mengirimkan SMS dan segera akan mendapatkan informasi balik mengenai harga pupuk melalui SMS. Hanya itu. Sesederhana itu. Di manapun anda berada, anda akan mendapatkan informasi mengenai apa yang anda inginkan. Seandainya saja ini dapat diterapkan, petani di daerah Amfoang, Kabupaten Kupang, tidak perlu lagi melangkahkan kaki sejauh beratus-ratus kilometer yang ditempuh selama 12 jam, hanya untuk menanyakan ke toko distributor mengenai harga pupuk.

Lalu mengapa saya katakan “MURAH”? Dari perspektif “konsumen”, aplikasi ini cukup dioperasikan dengan bermodalkan ponsel yang dewasa ini telah dipunyai oleh semua orang. Bahkan ponsel telah mulai bergeser menuju barang primer terkait kebutuhan berkomunikasi. Dari perspektif serta “operator”, untuk mengoperasikan aplikasi ini cukup digunakan laptop/notebook/netbook/desktop dan modem yang digunakan sebagai server pelayanan pesan. Dan tak lupa, ini yang terpenting, apikasi FrontlineSMS ini GRATIS! Ya, gratis. Tanpa bayar (baca: opensources).

Kemudian, mengapa mengapa saya katakan “APLIKATIF”? Saya memilih frase ini sebab dalam beberapa kasus memperlihatkan bahwa ketika suatu teknologi sangat rumit dan mahal dalam pengoperasiannya, maka pada akhirnya akan ditinggalkan begitu saja ketika selesai masa proyek. Tapi, tidak demikian dengan aplikasi ini, yang memerlukan hanya “basic needs” dari semua orang, yaitu keinginan untuk berkomunikasi yang sebenarnya merupakan implikasi logis dari manusia sebagai mahluk sosial. Anda cukup mengirimkan SMS dengan katakunci (keyword) tertentu yang kemudian diterima oleh server administrator. Operator kemudian akan me-reply dengan sejumlah informasi sesuai yang diinginkan oleh sang pengirim SMS tadi. Tak sulit dan tak rumit. Dengan demikian, saya tak perlu lagi menjelaskan mengapa dikatakan sebagai “MUDAH”. Buktinya, seluruh peserta mampu mengoperasikan aplikasi ini, baik sebagai operator maupun sebagai pihak konsumen. Silahkan simak Gambar 1 berikut yang merupakan hasil kreasi saya dan juga ibu Wida Bunga, dosen Faperta UNDANA,  yang mengangkat isu layanan informasi mengenai pertanian. Dapat terlihat pada gambar, jika seorang petani ingin mengetahui informasi mengenai musim tanam, maka cukup mengirimkan SMS ke nomor operator 081238016143 dan mengetik MT, maka akan langsung mendapatkan pesan balik, juga melalui SMS, mengenai informasi musim tanam yang diinginkan. Sederhana, bukan?
Gambar 1. Contoh Poster Aplikasi FrontlineSMS dengan Sejumlah Informasi Tambahan
Hari kedua, lebih seru dan juga melelahkan. Mengapa melelahkan? Nanti akan saya jelaskan. Sesuai dengan tema pelatihan, maka setelah pelatihan penggunaan FrontlineSMS, maka dilanjutkan dengan pelatihan mengenai software GIS yaitu OpenJump. Khusus untuk GIS itu sendiri, saya bingung mengapa penggunaan GIS belum menjadi isu sentral dalam bidang pertanian di NTT. Saya juga bingung, mengapa sampai saat ini GIS belum diajarkan di Faperta Undana. Sepengatahuan saya, tidak banyak – jika tidak ingin dikatakan masih “langka” – penelitian dalam bidang pertanian yang menggunakan analisis data spasial berbasis GIS ini. Padahal, USDA (United States Department of Agriculture), semacam Kementerian Pertanian kalau di Indonesia, telah menyadari dan mempraktikkan aplikasi GIS ini untuk mengatasi isu-isu sektor pertanian. Silahkan simak komentar Stephen Lowe yang merupakan salah satu direktur pada USDA berikut
the use of GIS has become recognized as really a core administrative function of the department….. You have the ability to classify problems, do interpretation analysis and prediction, forensic and to solve problems more efficiently. 
Kita jauh tertinggal di belakang. Sebagai misal, konsekuensi logis dari sistem pertanian lahan kering (dryland agriculture) di NTT tidak terhindarkan dari eksistensi api dalam pengelolaan agroeksistem lahan. Tetapi informasi mengenai titik-panas (hotspot) ternyata tidak banyak tersedia, kecuali untuk isu-isu berdampak massif seperti kebakaran hutan di beberapa tempat di Indonesia yang terkadang akan melewatkan daerah NTT oleh karena minimnya tutupan hutan..

Setelah presentasi singkat mengenai pengantar GIS dan contoh aplikasinya dalam bidang kesehatan dan pemetaan dampak penambangan mangan di Timor Barat sekitar ± 30 menit oleh pemateri, pelatihan dilanjutkan dengan aplikasi langsung di lapangan. Dan inilah alasan mengapa saya katakan “melelahkan” tadi. Para peserta diajak langsung keluar ruangan, dibagikan alat penerima GPS (global positioning system) dan diperintahkan untuk mengelilingi lokasi di belakang kampus UNDANA sampai kembali di lokasi pelatihan, gedung Pascasarjana UNDANA. Bayangkan saja, waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA dan kami peserta pelatihan mesti berjalan kaki mengambil sebanyak-banyaknya titik koordinat yang nantinya akan diinput pada tally sheet yang telah disiapkan disertai sejumlah informasi deskriptif lainnya (Gambar 2). Meski melelahkan, seluruh peserta merasakan kegembiraan oleh karena mendapatkan pengetahuan baru dalam hal pengoperasian alat penerima GPS yang kelihatannya tidak banyak peserta yang telah mengetahui sebelumnya. Setelah selesai melakukan pengambilan data tadi, maka dilanjutkan dengan input data pada software OpenJump yang juga sangat mudah. Data cukup diinput menggunakan MS Excel yang kemudian disimpan filenya dalam format CSV maka seluruh data tadi dapat langsung dapat ditampilkan sebagai data vektor yang pada OpenJump. Pada Gambar 2 terlihat hasil input titik koordinat pada 5 lokasi yang kemudian ditumpang-susun (overlay) pada citra yang diambil dari Google Earth. Sangat mudah. Saya membayangkan, seandainya saja teknologi sederhana ini dapat dalam penanganan isu-isu pengendalian hama terpadu, site-spesific dari penyebaran gulma penting, atau pola perpindahan dalam system tebas-bakar (slash-and-burn cultivation) yang merupakan beberapa ancaman primer pada pertanian lahan kering NTT, maka ini dapat menjadi “problem solving” di sektor pertanian di NTT, alih-alih terjebak dalam “business-as-usual” atau rutinitas semata.
Gambar 2. Beberapa Aktivitas Peserta dan Hasil Pelatihan software OpenJump
Apakah materi sudah selesai untuk hari kedua? Ternyata tidak! Pelatihan dilanjutkan dengan penggunaan aplikasi pada ponsel Android, yaitu PDF Maps yang juga dapat diunduh secara gratis. PDF Maps secara umum adalah aplikasi penginput data yang hampir serupa dengan proses sebelumnya, tetapi semakin mudah karena tidak memerlukan proses secara manual. Proses geotagging langsung diambil menggunakan aplikasi PDF Maps dan proses pencatatan informasi deskriptif dapat langsung dikerjakan pada ponsel tersebut sehingga lebih praktis dan juga lebih mudah. Hebatnya lagi, data hasil kerja pada aplikasi ini dapat langsung diimport pada MS Excel tanpa mesti bersusah payah menginputnya lagi. Sudah selesai? Ternyata (lagi-lagi) belum. Pelatihan dilanjutkan lagi dengan melihat pemateri memberikan demo mengenai aplikasi software GIS lainnya, yaitu SAGA GIS yang juga (lagi-lagi) merupakan software opensource, yang dapat digunakan mendeliniasi batas-batas daerah aliran sungai (DAS), memperkirakan laju erosi, dan berbagai fitur lainnya. Diperlihatkan bagaimana aplikasi SAGA GIS dalam memperkirakan laju erosi dan sedimentasi pada pilot project di bendungan Tilong yang berada pada DAS Manikin-Baki. Fitur-fitur lainnya tersebut notabene terdapat pada software GIS berbayar, seperti halnya ESRI ArcMAP/ArcGIS, yang berbiaya mahal dan untuk pengoperasiannya menuntut laptop/computer device dengan spesifikasi yang tinggi pula. Sebagai informasi tambahan, diperlukan tidak kurang dari $ 100 per tahun sebagai biaya instalasi ArcGIS berlisensi resmi untuk kategori “pengguna rumahan” (home use) dengan fitur yang terbatas.

Dari dua hari mengikuti kegiatan ini, saya paling tidak dapat memetik 3 penting: Pertama, saya memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan baru yang sangat bermanfaat terkait dengan aplikasi FrontlineSMS dan juga beberapa software GIS. Kedua, terdapat berbagai aplikasi dan software gratis yang dapat digunakan dalam pengolahan data GIS dengan fitur yang tidak kalah dari software berbayar yang harganya sangat mahal. Dan ketiga, pada akhirnya, saya mesti mengakui beruntung, saya tidak mengikuti sifat enggan terhadap ajakan senior sebagaimana saya sebut pada awal tulisan ini. Dengan mengikuti pelatihan ini, saya bukan saja mendapatkan informasi yang bernas dan sangat berguna, tetapi juga berinteraksi dengan peserta yang berasalh dari latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda.  Tak ada satu pun peserta yang protes, malah justru terkaget-kaget, ketika waktu telah menunjukkan pukul 18.30 WITA dan hari telah gelap, baik pada hari pertama maupun kedua. Terimakasih kami ucapkan untuk Undana dan CDU yang telah memberikan kami kesempatan untuk mengikuti kegiatan pelatihan selama 2 hari ini.

Senin, 21 Juli 2014

Calon Atase Pendidikan KBRI Manila Mengunjungi Undana untuk Memperoleh Masukan

Calon Atase Pendidikan KBRI Manila, Dr. Ir. Aisyah E. Palupi, MPd., mengunjungi Undana, didampingi oleh staf Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Sekretariat Jenderal Kemdikbud, Robert Hedy dan Nursyam. Calon Atase Pendidikan tersebut diterima oleh Rektor Prof. Fred Benu dengan didampingi oleh PR IV I Wayan Mudita, PR III Prof Simon Sabon Ola, dan Kepala IRO Prof Heri Lalel, pada 22 Juli 2014 pagi di Ruang Kerja Rektor, Gedung Rektorat Lantai II. Dr. Palupi menyampaikan maksud kunjungannya dengan terlebih dahulu memperkenalkan diri bahwa beliau adalah dosen di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Beliau memperoleh amanah menjadi calon atase pendidikan dengan cara melamar dan mengikuti serangkaian uji (test).

Kunjungan Dr. Palupi ke Undana dimaksudkan untuk memperoleh masukan berkaitan dengan bidang tugas sebagai atase pendidikan di KBRI Manila. Menanggapi permintaan tersebut, Rektor menjelaskan bahwa di Undana terdapat sejumlah dosen lulusan universitas Filipina, di antaranya Dekan Fakultas Pertanian Ir. Robby Pelokilla, MSi., Ph.D. Rektor menambahkan bahwa minat dosen Undana untuk melanjutkan pendidikan di Filipina menurun dalam beberapa tahun terakhir karena berbagai sebab, antara lain meningkatnya tawaran beasiswa dari negara lain. Namun demikian, Rektor menambahkan, kehadiran Dr, Palupi sebagai atase pendidikan di KBRI Manila nanti diharapkan dapat meningkatkan kembali kerjasama antara Undana dengan universitas-universitas di Filipina, terutama kerjasama dalam bidang pendidikan dan penelitian.

Mengenai kerjasama dalam bidang penelitian, Rektor mengharapkan agar Dr. Palupi bisa membantu Fakultas Pertanian Undana untuk bekerjasama dengan IRRI (International Rice Research Institute) dalam bidang penelitian padi. Rektor menjelaskan bahwa meskipun saat ini Provinsi NTT dikenal sebagai provinsi jagung karena wilayahnya didominasi oleh lahan kering, padi juga merupakan komponen penting dalam sistem pertanian lahan kering, terutama dalam sistem peerladangan. Pada sistem perladangan tersebut, padi ladang lazim dibudidayakan pada tahun pertama ketika ladang baru dibuka, Kerjasama dengan IRRI diharapkan dapat dikembangkan sistem perladangan yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan sekaligus dapat meningkatkan produksi yang relatif masih rendah.

Dr. Palupi menyampaikan bahwa beliau juga akan memfasilitasi pertukaran dosen dan mahasiswa antara kedua negara. Sehubungan dengan pertukaran dosen dan mahasiswa tersebut, Rektor menyampaikan kesiapan Undana sebagai tuan rumah. Rektor menyampaikan bahwa selama ini Undana telah beberapa kali menjadi tuan rumah pertukaran dosen dan mahasiswa. Terakhir, Undana menjadi tuan rumah kegiatan BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) mahasiswa Charles Darwin University (CDU) dan kegiatan praktik lapangan (field intensive) mahasiswa CDU, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Kristen Satya Wacana. Undana juga tengah menyiapkan kegiatan pertukaran dosen dan mahasiswa dengan Vilnius University, Lithuania.

Di bidang kebudayaan, atase pendidikan bertugas meningkatkan kerjasama kedua negara di bidang tersebut. Rektor menyatakan siap mendukung tugas atase kependidikan di bidang kebudayaan dengan mengirimkan kelompok mahasiswa paduan suara yang selama ini telah beberapa kali memenangi lomba tingkat nasional. Selain itu Rektor juga siap mempromosikan kesenian daerah NTT, di antaranya musik sasando. Dr. Palupi berterima kasih atas banyak masukan yang telah disampaikan oleh Rektor dan berjanji akan menindaklanjuti nanti pada saat bertugas di KBRI Manila bulan September tahun ini.

Minggu, 20 Juli 2014

Penjelasan atas Jawaban terhadap Pertanyaan Asesor AIPT mengenai Pola Ilmiah Pokok Semiringkai Kepulauan

Pada saat pertemuan dengan pimpinan universitas pada 18 Juli 2014, asesor AIPT (Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi) Prof. Bambang Purwoko meminta penjelasan atas istilah semiringkai pada pola ilmiah pokok semiringkai kepulauan. Rektor Prof. Fred Benu meminta kepada PR IV untuk memberikan penjelasan mengenai istilah tersebut dan sekaligus penjelasan mengapa Undana menetapan semiringkai kepulauan sebagai pola ilmiah pokok. Pertanyaan mengenai istilah tersebut diminta oleh asesor karena dokumen borang akreditasi memang kurang memberikan penjelasan mengenai apa itu semiringkai dan mengapa pola ilmiah pokok Undana adalah semiringkai kepulauan. Karena waktu yang tersedia terbatas, pada waktu itu PR IV memberikan penjelasan yang singkat. Tulisan ini merupakan elaborasi terhadap penjelasan singkat tersebut yang didasarkan atas buku Revisitasi Lahan Kering dan sumber-sumber lain.

Kata semiringkai terdiri atas kata dasar 'ringkai' yang memperoleh awalan 'semi-'. Menurut KBBI dalam jaringan (online), kata dasar ringkai berarti kering sekali. Kata dasar 'ringkai' ini digunakan sebagai terjemahan kada dasar 'arid' dalam bahasa Inggris. Kata dasar 'arid' dalam bahasa Inggris mempunyai dua makna: (1) berkaitan dengan lahan dan iklim berarti mendapat hujan sangat sedikit, terlalu kering untuk mendukung pertumbuhan vegetasi dan (2) berkaitan dengan perilaku dan penampilan berarti kurang mempunyai daya tarik, kegairahan, atau makna. Awalan 'semi-' merupakan awalan bahasa Inggris yang bermakna sebagian, setengah, atau mendekati. Dengan demikian, berkaitan dengan pola ilmiah pokok Undana, kata 'semiringkai' berarti secara harfiah keadaan lahan atau iklim yang mendekati sangat kering sehingga agak kurang dapat mendukung pertumbuhan vegetasi. Pertanyaan selanjutnya adalah keadaan lahan atau iklim yang mendekati kering itu sebenarnya seperti apa? Kurang dapat mendukung pertumbuhan vegetasi itu sebenarnya maksudnya apa?

Istilah 'semiringkai' sebagai pola ilmiah pokok Undana sebenarnya berkaitan dengan lingkungan hidup. Mengingat lingkungan hidup mencakup dimensi fisik-kimia, hayati, sosial-ekonomi-politik, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat maka mendefinisikan apa itsebenarnya lingkungan semiringkai merupakan tugas yang tidak sederhana. Oleh karena itu, sebagai dasar, FAO (1989) menggunakan dimensi fisik sebagai indikator utama, yaitu keringkaian (aridity). Secara fisik, keringkaian didefinisikan sebagai nisbah (ratio) antara presipitasi (hujan maupun salju, dilambangkan P) dan evapotranspirasi potensial (ETP) yang diukur dengan menggunakan metode Penman dengan memperhatikan kelembaban udara, radiasi matahari, dan angin. Nisbah P/ETP = 0-0,03 dikategorikan sebagai superringkai, 0,03-0,20 dikategorikan ringkai atau gurun, dan 0,20-0,50 dikategorikan semiringkai. Tapi keringkaian hanyalah sebuah indeks, masih terdapat banyak aspek lain yang menentukan apakah suatu kawasan merupakan kawasan semiringkai atau bukan, antara lain tipe vegetasi savana, sistem budidaya pertanian tebas-bakar, sistem pemeliharaan ternak dengan cara lepas, dan sebagainya.

Lalu mengapa Undana menetapkan semiringkai kepulauan sebagai pola ilmiah pokok? Mengapa bukan lahan kering atau bahkan pertanian lahan kering seperti sebelumnya? Kawasan semiringkai dunia sebagian besar berada di wilayah kontinental. Kawasan Nusa Tenggara dan Maluku bagian Selatan merupakan satu-satunya kawasan semiringkai yang merupakan kepulauan. Kondisi semiringkai kawasan Nusa Tenggara dan Maluku bagian Selatan dimungkinkan karena:

  • Berada dekat dengan benua Australia yang kering yang menjadi asal angin tenggara yang kering pada bulan-bulan Mei-Oktober. Kedekatan dengan benua tersebut menyebabkan kawasan Nusa Tenggara dan Maluku bagian Selatan mendapat pengaruh yang paling kuat dari kekeringan benua Australia.
  • Kawasan Nusa Tenggara dan Maluku merupakan kepulauan dengan deretan pulau-pulau yang membentang dari Barat ke Timur sehingga pulau-pulau di sebelah Timur menerima bayang-bayang hujan dari pulau di sebelah Barat.

Namun demikian, kedua kondisi di atas tidak berlaku sama terhadap semua wilayah Nusa Tenggara dan Maluku Selatan. Bagian-bagian tertentu dari pulau-pulau tertentu memperoleh curah hujan cukup tinggi karena tidak berada pada bayang-bayang hujan atau memperoleh hujan dari angin Tenggara. Misalnya Sumba bagian Selatan yang tidak berada dalam bayang-bayang hujan memperoleh hujan tinggi selama musim hujan, sedangkan wilayah pesisir Selatan Pulau Flores bagian Barat memperoleh hujan pada musim kemarau.

Derajat keringkaian sebagaimana ditunjukkan oleh nisbah P/EPT menentukan keadaan vegetasi suatu wilayah dan juga jenis tanaman yang dapat dibudidayakan tanpa bergantung pada irigasi. Pada umumnya, vegetasi di wilayah kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku bagian Selatan merupakan vegetasi hutan kering dataran rendah maupun dataran tinggi, kecuali di bagian-bagian yang menerima curah hujan lebih tinggi atau di wilayah pegunungan. Vegetasi di wilayah Nusa Tenggara Timur didominasi oleh savana dengan jenis-jenis pohon gugur daun tumbuh jarang atau mengelompok pada titik-titik tertentu. Oleh karena kondisi iklim yang kering tersebut, budidaya tanaman semusim pada umumnya hanya dapat dilakukan selama musim hujan dan budidaya tanaman tahunan dilakukan dengan menggunakan jenis-jenis tanaman yang tahan kekeringan. Budidaya tanaman semusim pada umumnya dilakukan dengan menggunakan sistem perladangan, sedangkan budidaya tanaman tahunan dengan sistem perkebunan rakyat. Sementara itu, peternakan rakyat dilakukan dengan pola peternakan lepas sehingga untuk mencegah ternak merusakkan tanaman maka kawasan budidaya pertanian perlu dipagari keliling.

Sistem pertanian yang berbasis pada sistem perladangan dan perkebunan rakyat serta peternakan lepas pada gilirannya akan menentukan budaya masyarakat. Budaya tolong menolong sangat kuat karena sangat diperlukan untuk menghadapi ancaman kekeringan yang sering melanda kawasan. Budaya tolong menolong tersebut pada gilirannya terinstitusionalisasi dalam berbagai ritual adat. Selain itu, ancaman kondisi lingkungan yang keras mendorong terbangunnya ikatan kekerabatan yang sangat kuat. Pola hubungan sosial cenderung lebih didominasi oleh bonding ties dalam kerabat atau kelompok dan linking ties dengan para pemuka adat, daripada oleh bridging ties dengan masyarakat luar. Namun demikian bukan berarti bahwa masyarakat tertutup terhadap pengaruh dari luar. Melainkan, mereka pada umumnya terbuka. Hanya saja, pihak luar diterima sebatas sebagai outsiders sampai dapat memenuhi sejumlah ketentuan adat yang memungkinkan mereka menjadi orang dalam.

PIP yang pada mulanya ditetapkan adalah pertanian lahan kering. Penetapan PIP Pertanian Lahan Kering dilakukan seiring dengan pendirian Fakultas Pertanian pada awal 1980-an. Mengingat Undana terdiri atas banyak fakultas, PIP Pertanian Lahan Kering tersebut banyak menghadapi penolakan dari kalangan di luar Fakultas Pertanian. Menyadari kenyataan tersebut, PIP kemudian diubah menjadi pengembangan lahan kering. Namun lahan kering sebenarnya terdapat bukan hanya di wilayah Nusa Tenggara Timur, tetapi juga di sebagian besar wilayah Indonesia. Atas dasar itu kemudian PIP diubah menjadi pengelolaan kawasan semiringkai kepulauan. Dalam beberapa waktu terakhir ditambahkan kepariwisataan, untuk menangkap peluang pada sektor kepariwisataan. Dengan demikian, PIP Undana saat ini adalah pengelolaan kawasan semiringkai kepulauan plus kepariwisataan atau sering disingkat menjadi semiringkai kepulauan plus.

Sabtu, 19 Juli 2014

Undana dan CDU Selenggarakan Pelatihan Pemanfaatan Komunikasi Seluler dan SIG sebagai Instrumen Penelitian

Sebagai bagian dari kegiatan kerjasama Charles Darwin University (CDU) dengan Australian National University (ANU), Universitas Nusa Cendana (Undana), dan Universitas Halu Oleu (Unhalu), Undana selenggarakan pelatihan pengumpulan data sebagai bagian dari kegiatan penelitian kerjasama tersebut. Pelatihan dilaksanakan oleh anggota tim inti penelitian kepada para dosen dan mahasiswa Undana maupun pihak luar Undana sebagai upaya untuk diseminasi metode penelitian yang digunakan kepada para pihak terkait. Pelatihan tersebut dilaksanakan pada 16-18 Juli 2014 bertempat di Gedung Pascasarjana Undana. Pembukaan pelatihan dilaksanakan oleh PR IV I Wayan Mudita, mewakili Rektor Prof. Fred Benu yang berhalangan karena sedang bertugas di luar kota.

Ketua Panitia Pelatihan, Dr. Welhelmus I.I. Mella, yang adalah juga Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan PPs Undana, melaporkan bahwa peserta pelatihan berjumlah 30 orang, terdiri atas kalangan dosen, mahasiswa, aparat pemerintah, dan aktivis LSM. Menurut Dr. Mella, pelatihan ini sangat penting mengingat materi yang akan disampaikan merupakan teknologi yang selain baru juga tersedia secara gratis, yaitu integrasi pemanfaatan layanan pesan singkat FrontlineSMS dan SIG (Sistem Informasi Geografik) sebagai instrumen pengumpulan dan analisis data penelitian. Dalam kata sambutannya, PR IV menyampaikan pesan Rektor untuk mengucapkan terima kasih kepada CDU yang telah sekian lama dan terus menjalin kerjasama dengan Undana. "Pak Rektor apologizes for not being able to be with us here at this important moment, but he thanks CDU management and researchers for putting Undana as one of CDU's strategic partners in Indonesia", kata PR IV.

Seorang mahasiswa Australia yang sedang belajar di Undana, Nick, memainkan alat musik tradisional NTT, sasando.

Hari pertama pelatihan digunakan untuk mempelajari penggunaan layanan pesan singkat FrontlineSMS. Pada awalnya, FrontlineSMS merupakan aplikasi terbuka yang dikembangkan untuk membantu pengelola Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan untuk berkolaborasi dengan masyarakat. Versi 2.0 dari aplikasi tersebut merupakan perubahan rancangan menyeluruh yang memungkinkan pengguna untuk menyebarkan dan mengumpulkan informasi melalui pesan singkat (SMS) dengan menggunakan FrontlineSMS desktop app, FrontlineCloud, dan FrontlineSync untuk ponsel Android. FrontlineSMS dijalankan dengan menggunakan komputer desktop yang terkoneksi dengan menggunakan modem GSM, telepon seluler, atau layanan SMS dalam jaringan (online SMS). Dengan menggunakan layanan ini, pesan singkat yang selama ini pada umumnya digunakan untuk tujuan konsumtif dapat digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih produktif dalam berbagai bidang, termasuk bidang pertanian. FrontlineSMS memungkinkan penggunaan SMS sebagai instrumen penelitian yang melibatkan masyarakat sebagai pengumpul data penelitian. Untuk yang ingin belajar cara menggunakan layanan ini, silahkan pelajari panduan dan studi kasus penggunaan FrontlineSMS (bahasa Inggris). FrontlineSMS dapat digunakan secara terintegrasi dengan aplikasi layanan sumber terbuka untuk melakukan pengumpulan dan visualisasi secara terpadu serta pemetaan secara interaktif, Ushahidi.

Pada hari kedua pelatihan dipelajari cara penggunaan alat penerima GPS untuk mengumpulkan data spasial dan pengenalan program aplikasi SIG sumber terbuka (open source) OpenJump dan SAGA serta aplikasi PDF Maps. Pengenalan dan penggunaan alat penerima GPS dilakukan dengan menggunakan alat penerima GPS Garmin eTrex 10 SEA. Silahkan unduh dan pelajari panduan penggunaan Garmin eTrex (dalam bahasa Inggris) serta unduh dan pasang program aplikasi DNR Garmin untuk memindahkan data dari alat penerima GPS ke program aplikasi SIG. OpenJump merupakan program aplikasi SIG tingkat pemula, sedangkan SAGA merupakan program aplikasi SIG modular tingkat lanjut. Silahkan pelajari panduan OpenJump  dan panduan SAGA untuk memasang dan menggunakannya. PDF Maps merupakan aplikasi ponsel pintar dan komputer tablet Android dan iOS untuk membaca file peta dengan format Geospatial PDF, GeoPDF dan GeoTIFF. Silahkan pelajari panduan mengunduh, memasang, dan menggunakan PDF Maps untuk membaca format file tersebut di atas pada ponsel pintar atau komputer tablet Android.

Hari ketiga digunakan untuk melakukan latihan dan kunjungan lapangan pengumpulan data dampak penambangan rakyat (artisanal mining). Kunjungan lapangan dilakukan di lokasi penambangan mangan di desa-desa di sekitar Camplong, Kabupaten Kupang. Pelatihan ditutup oleh Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan PPs Undana karena pada saat yang bersamaan seluruh pimpinan Undana sedang menghadiri rapat evalusi asesmen Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) yang berlangsung pada 17-19 Juli 2014. Ketua Panitia meminta kepada Rektor melalui PR 4 agar Undana dapat memfasilitasi para peserta melakukan penyegaran dan pendalaman materi pelatihan secara berkala agar materi yang telah diterima dapat lebih dikuasai. Pelatihan akan ditindaklanjuti dalam waktu dekat dengan kegiatan pengumpulan data lapangan yang akan dipimpin oleh anggota inti tim penelitian, Remi L. Natonis.

Pelatih FrontlineSMS dari CDU, Mr. Rohan Fisher, diantar ke Bandara untuk kembali ke Darwin

Informasi Tambahan
Silahkan jelajah halaman FrontlineSMS, Ushahidi, OpenJump, SAGA, dan Garmin DNR pada Wikipedia untuk memperoleh informasi dasar mengenai aplikasi tersebut. Silahkan unduh materi pelatihan FrontlineSMS untuk kesehatan (lengkap) dan untuk tambang rakyat (bhs. Indonesia, bhs. Inggris), materi pelatihan SIG, serta data vektor dan data raster yang digunakan pada saat pelatihan SIG. Materi mengenai FrontlineSMS dan Open-Source GIS dapat diperoleh lebih lengkap dari blog rohanfisher.


Minggu, 13 Juli 2014

Rektor Undana Menerima Kunjungan Penasihat Senior Menteri Administrasi Pemerintahan Timor Leste

Senin, 14 Juli 2014, Rektor Undana Prof. Fred Benu menerima kunjungan Penasihat Senior Menteri Administrasi Pemerintahan Timor Leste, Prof. Dr. (HC) Willi Toisuta, Ph.D., yang didampingi seorang staf bidang hukum. Rektor menerima kunjungan tersebut di ruang kerja Gedung Rektorat Lantai II dengan didampingi oleh Pembantu Rektor IV, Dekan FKIP, Ketua LP3 Dr. Ir. S.P. Manongga, MS, dan dosen FKIP Dr. Gomer Liufeto. Prof. Toisuta menyampaikan bahwa kunjungan kali ini merupakan kunjungan awal untuk mempersiapkan kerjasama yang akan ditindaklanjuti nanti secara formal pada bulan September 2014. Rektor Undana menyampaikan terima kasih terhadap adanya kunjungan awal seperti ini sehingga Undana dapat segera mengambil langkah-langkah tindak lanjut yang perlu segera dipersiapkan.

Prof. Dr. (HC) Willi Toisuta, Ph.D.

Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Toisuta, kerjasama yang direncanakan terdiri atas kerjasama penelitian dan kerjasama pendidikan pascasarjana. Topik yang menjadi fokus penelitian adalah keterdidikan anak-anak Timor (educability of Timorese children) untuk mengembangkan pola pendidikan yang berwawasan lingkungan fisik dan budaya setempat. "Pola pendidikan saat ini merupakan salah satu faktor yang ikut berkontribusi terhadap ketertinggalan keterdidikan anak-anak di Indonesia Timur. Hasil penelitian Dr. Manongga menunjukkan bahwa anak-anak di Papua misalnya, mengalami ketertinggalan sampai 67%", papar Prof. Toisuta. Rektor Prof. Fred Benu sepakat dengan pemikiran Prof. Toisuta. Rektor juga menambahkan dengan menyampaikan hasil penelitian yang dilakukan Undana di kabupaten-kabupaten Boven Digoel, Pantai Kasuari, Jayawijaya dan wilayah pemekarannya, serta Kerom, yang menunjukkan bahwa anak-anak kelas 6 dan 6 SD masih belum bisa membaca dan menulis dengan lancar.

Prof. Toisuta menyampaikan bahwa penyandang dana sudah tersedia, tetapi kontribusi in kind dan dana dari Undana tetap diperlukan. Sehubungan dengan itu, Rektor meminta agar Dr. Manongga dan Dr. Liufeto dapat menyiapkan proposal untuk memperoleh dana pendamping penelitian kerjasama untuk disampaikan ke Ditjen Dikti. Rektor juga meminta agar Dekan FKIP dapat mengalokasikan anggaran fakultas dari pos yang sesuai untuk kepentingan tersebut. Rektor berharap agar hasil penelitian dapat digunakan bukan hanya di Timor Leste, tetapi juga sebagai masukan bagi pemerintah Indonesia dalam mengembangkan pola pendidika  yang lebih dapat mengakomodasi lingkungan fisik dan budaya setempat. "Di Papua pesisir selatan kami menemukan pola di mana sekolah yang mengikuti masyarakat, bukan sebaliknya, karena di sana masyakat berpindah ke tempat lain setelah pohon sagu di satu tempat habis dipanen", Rektor menambahkan.

Mengenai kerjasama kerjasama dalam pendidikan pascasarjana, Prof. Toisuta menyampaikan keinginan pemerintah Timor Leste untuk meningkatkan kerjasama antara Universidade Nacional Timor Lorosa'e (UNTL) dengan Universitas Nusa Cendana. Sehubungan dengan itu, diharapkan bahwa Undana dapat menerima dosen UNTL untuk melanjutkan studi pascasarjana di Undana. Rektor menanggapi positif keinginan tersebut dengan menyampaikan bahwa penerimaan mahasiswa untuk tahun ajaran ini telah ditutup sehingga baru dapat ditindaklanjuti pada tahun ajaran berikutnya. Rektor bahkan mengharapkan agar kerjasama juga dilakukan melalui pembukkaan program pascasarjana di UNTL dengan dukungan dosen dari Undana. Prof. Toisuta berjanji akan melaporkan kemungkinan tersebut kepada Rektor UNTL untuk ditindaklanjuti pada pembicaraan resmi nanti pada minggu pertama September 2014.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites