Gerbang Kampus

Selamat datang di kampus Universitas Nusa Cendana, Kampus Baru, Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang, NTT.

Rektorat Undana

Gedung Rektorat Undana tempat rektor, para pembantu rektor, para kepala biro dan jajarannya berkantor.

Kehidupan Kampus

Kampus Undana menyediakan fasilitas untuk mendorong mahasiswa aktif berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan kampus.

Praktikum Laboratorium

Undana menyelenggarakan pendidikan akademik dan pendidikan vokasi yang didukung dengan fasilitas memadai, di antaranya laboratorium.

Wisuda Sarjana dan Pascasarjana

Setiap tahun Undana mewisuda lulusan sarjana dan pascasarjana dari berbagai bidang ilmu dan pendidikan profesi.

Sabtu, 30 Mei 2015

Rektor, Pembantu Rektor II, dan Pembantu Rektor IV Menghadiri Trilateral University Roundtable Meeting II di Charles Darwin University, Darwin, NT, Australia

Menindaklanjuti hasil Trilateral University Roundtable Meeting (TURM) I yang diselenggarakan di Dili pada 2014, diselenggarakan TURM II di Darwin, NT, Australia, pada 11-12 Mei 2015. Yang menjadi tuan rumah TURM II kali ini adalah Charles Darwin University (CDU), yang merupakan satu-satunya universitas Australia yang tergabung dalam gabungan universitas-universitas dari tiga negara bertetangga, Indonesia, Australia, dan Timor Leste. TURM II dihadiri oleh seluruh anggota The Indonesia-Timor Leste-Australia Consortium yang terdiri atas Universitas Nusa Cendana (Undana), Universitas Mataram (Unram), Universitas Udayana (Unud), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universidade Nacional Timor Lorosaé, Dili Institute of Technology (DIT), dan CDU sebagai tuan rumah. TURM II dengan tema The Role of Universities in Integrated Sub-Regional Development tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi pengembangan kapasitas kerjasama di kawasan sub-regional Indonesia Timur, Timor Leste, dan Australia.

TURM II dibuka langsung oleh Vice-Chancellor CDU Prof. Simon Maddocks, didampingi oleh Deputy Vice Chancellor Prof. Sharon Bell. Selain itu juga ikut memberikan sambutan perwakilan pemerintah Northern Territory, Konsul Indonesia di Darwin, dan Rektor UNTL mewakili pemerintah Timor Leste. Konsul Indonesia berhalangan karena sedang berada di Alice Spring, sehingga baru bisa hadir pada hari kedua. Vice Chancellor CDU menekankan arti penting peran serta universitas dalam meningkatkan kerjasama tiga negara Australia-Indonesia-Timor Leste. Hal yang samna juga disampaikan oleh perwakilan Konsulat Indonesia di Darwin dan Rektor UNTL yang mewakili pemerintah Timor Leste. Pada hari pertama dilaksanakan presentasi pelaksanaan kegiatan kerjasama sejak pertemuan pertama di Dili pada tahun sebelumnya. Pada kesempatan tersebut, Rektor Undana mempresentasikan berbagai kegiatan kerjasama dengan CDU maupun kerjasama dengan universitas di Timor Leste dan dengan universitas lain di Indonesia. Sebelum jamuan makan siang dilakukan penandatanganan perpanjangan nota kesepahaman antara Vice Chancellor CDU dengan sejumlah rektor, termasuk dengan Rektor Undana Prof. Fred Benu. Jamuan makan siang diselenggarakan di Indonesian Garden, yang terletak bersebelahan dengan Chancellery Building. Pada jamuan makan siang tersebut, Vice Chancellor CDU Prof. Simon Maddock terlibat pembicaraan serius dengan Rektor Undana Prof. Fred Benu.




Hari kedua diawali dengan presentasi oleh Konsul Indonesia di Darwin mengenai pentinngnya kerjasama ketiga kawasan sub-regional, khususnya dalam kaitan dengan program tol laut yang digagas oleh Presiden Joko Widodo. Pada hari kedua dilaksanakan presentasi tematik oleh para peserta dan perwakilan mahasiswa dan alumni. Pada presentasi tematik mengenai lingkungan hidup dipresentasikan kerjasama antara Research Institute for the Environment and Livelihoods (RIEL) dan Undana, antara lain mengenai pengelolaan api, GIS kesehatan Provinsi NTT, GIS kerusakan hutan di Timor Barat, tambang rakyat di NTT dan Sulawesi Tenggara, dsb. Pada hari kedua juga dibahas tema-tema kerjasama dan universitas yang ditetapkan sebagai pusat unggulan untuk setiap tema. Undana dipercaya sebagai pusat unggulan bidang pertanian lahan kering dan lingkungan hidup. Penetapan tersebut didasarkan atas pola ilmiah Undana untuk menjadi pusat pengembangan lahan kering kepulauan dan kerjasama Undana dengan RIEL yang sudah terbina sangat lama dan semakin intensif. Hari kedua diakhiri dengan penetapan lokasi TURM III 2016 dan Undana terpilih secara aklamasi sebagai lokasi pertemuan.




TURM II 2015 diakhiri dengan jamuan makan malam di restoran Darwin Harbour Cruises di kapal layar Tumlaren. Kapal berangkat dari dermaga di Darwin Waterfront, berlayar pada pukul 17.15 waktu setempat ke arah pesisir barat kota Darwin untuk menikmati matahari terbenam dan kembali untuk menikmati pemandangan kota Darwin pada malam hari. Di kapal disajikan hidangan khas Darwin disertai dengan minuman anggur.


Rektor Undana didampingi oleh Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama dan Alumni dan Pembantu Rektor II Bidang Administrasi dan Keuangan masih melakukan pertemuan dengan pihak CDU di luar acara TURM II. Pertemuan pertama dilakukan dengan Direktur Northern Institute CDU Prof. Ruth Wallace untuk membahas pembimbingan bersama mahasiswa S3 Administrasi Publik Undana. Pertemuan dengan Prof. Ruth Wallace berlangsung sore hari pada hari pertama di Adina Vibe Hotel, Darwin Waterfront. Pada pertemuan tersebut disepakati bahwa Prof. Ruth Wallace akan berkunjung ke Kupang pada Juni 2015 untuk bertemu dengan mahasiswa Undana. Pertemuan kedua dengan Direktur RIEL dan Dekan School of Environment CDU, Prof Andrew Campbell. Pertemuan berlangsung di kantor RIEL di kampus CDU pada 13 Mei 2015, dihadiri oleh staf RIEL lainnya, antara lain Dr. Penny Wurm dan Rohan Fisher. Pertemuan ini membahas agenda kegiatan penelitian ASM dan kemungkinan pelibatan mahasiswa S2 ilmu lingkungan dalam kegiatan penelitian tersebut. Disepakati bahwa Direktur RIEL dan Dekan School of Environment Prof. Andrew Campbell akan berkunjung ke Undana akhir Mei 2015.


Hari terakhir berada di Darwin dimanfaatkan untuk bertemu dengan orang-orang Indonesia, khususnya asal NTT, yang tinggal di Darwin. Pada hari terakhir tersebut Rektor juga berkesempatan berkeliling dengan berjalan kaki di kawasan pusat kota darwin dan naik bis kota melihat-lihat kawasan kota Darwin di luar pusat kota. Menurut Rektor, Darwin merupakan kota kecil saja, lebih kecil dari Perth di mana dahulu Rektor menyelesaikan pendidikan S3, tetapi tertata sangat rapi. Rektor dan rombongan kembali ke Kupang dengan penerbangan malam dari Darwin menuju Denpasar, dilanjutkan dengan penerbangan lanjutan keesokan harinya dari Denpasar ke Kupang.


Rabu, 06 Mei 2015

Kesempatan Menyajikan Makalah pada Pertemuan Tingkat Tinggi Bilateral Australia-Indonesia '2015 Secure Food Future Summit: Biosecurity for Food Security'

Bekerjasama dengan Plant Biosecurity Cooperative Research Centre (PBCRC), Canberra, Australia, dan Universitas Mahasaraswati, Denpasar, Bali, sebagai tuan rumah, Universitas Nusa Cendana bersama dengan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, serta Universitas Sam Ratulangi dan The Pacific Institute, Manado, Sulawesi Utara, bermitra menyelenggarakan 2015 Secure Food Futures: Biosecurity and Food Security. Pertemuan tingkat tinggi bilateral Australia dan Indonesia ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menggalang kerjasama yang lebih erat antara pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia dalam bidang pertanian dalam 4 tahun ke depan hingga 2019 dengan memperkuat ketahanan hayati tumbuhan (plant biosecurity) melalui pengembangan jejaring kerjasama ketahanan hayati global. Pertemuan tingkat tinggi tersebut akan diselenggarakan di Kopertis Wilayah VIII, Jalan Trengguli, Banjar Tembau, Penatih, Denpasar, Bali, pada 21-22 Mei 2015.

Pertemuan tingkat tinggi bilateral tersebut diharapkan merupakan kelanjutan dari kerjasama yang telah dirintis sejak 2008 dengan melakukan penelitian mengenai berbagai aspek ketahanan hayati di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan memberikan beasiswa kepada dosen dan aparat pemerintah daerah untuk melanjutkan studi pada tingkat S2 dan S3 di perguruan tinggi di Australia dan Indonesia. Sebagai kelanjutan dari kerjasama tersebut, pertemuan bilateral tingkat tinggi kali ini diharapkan dapat menghasilkan dokumen kebijakan berbasis penelitian yang disebut ‘Thought Leadership Paper’. Dokumen ini akan memberikan kerangka strategi bagi penguatan ketahanan hayati pertanian di Indonesia, khususnya pengembangan jejaring ketahanan hayati pertanian kawasan timur Indonesia. Dokumen ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kerjasama bilateral strategis bagi pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia dalam bidang ketahanan hayati dan ketahanan pangan yang diharapkan akan berlangsung sampai pada 2018 melalui kegiatan penelitian yang akan didukung oleh PBCRC. Informasi mengenai latar belakang pertemuan tingkat ini dapat diperoleh dari Kerangka Acuan Kegiatan.


Thoght Leadership Paper tersebut akan disusun bersama oleh seluruh universitas anggota konsorsium dengan tugas khusus setiap universitas sebagai berikut:
  • Universitas Nusa Cendana: prakarsa ilmu dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan memberikan peringatan dini (early warning) dan melakukan deteksi efektif (effective detection) dalam menghadapi ancaman ketahanan hayati, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan, silahkan unduh dan baca abstrak;
  • Universitas Kristen Satya Wacana: integrasi kebijakan yang berkaitan dengan ketahanan hayati (biosecurity policy integration) antar sktor pemerintahan, khususnya kebijakan mengenai karantina;
  • Universitas Sam Ratulangi: kaitan antara keanekaragaman hayati (biodiversity) dengan ketahanan hayati dalam mengamankan pangan dalam jangka pendek dan jangka panjang, khususnya guna mengurangi kehilangan hasil sepanjang rantai produksi dan distribusi pangan; dan
  • Universitas Mahasaraswati: pengembangan ketahanan hayati, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan melalui pendidikan dan latihan (education and training).

Berkaitan dengan tugas khusus tersebut, peserta asal Provinsi Nusa Tenggara Timur diharapkan menyesuaikan topik makalah presentasi oral dan posternya dengan topik yang dialokasikan untuk Universitas Nusa Cendana, yaitu ilmu dan teknologi yang diperlukan untuk melakukan peringatan dini dan deteksi efektif. Peringatan dini berkaitan dengan teknik dan peralatan untuk melakukan identifikasi organisme yang menimbulkan ancaman baru terhadap ketahanan hayati, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan serta teknik dan peralatan yang diperlukan untuk pengambilan keputusan secara cepat oleh pihak yang berwenang. Pada pihak lain, deteksi secara cepat berkaitan dengan teknik dan peralatan yang diperlukan untuk melakukan pemantauan dan identifikasi organisme, baik yang lama maupun baru, yang menimbulkan masalah ketahanan hayati, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan.


Pertemuan tingkat tinggi tersebut menghadirkan pejabat tinggi dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sebagai penyaji kunci (keynote speakers). Pertemuan tingkat tinggi bilateral ini terbuka bagi umum, khususnya bagi kalangan yang bertanggung jawab dalam bidang ketahanan hayati (misalnya karantina pertanian), kalangan pengambil kebijakan dalam bidang pertanian, peternakan, kelautan, kehutanan, dan perdagangan, serta dosen, peneliti, dan praktisi dalam bidang pertanian, peternakan, kelautan, kehutanan, dan pariwisata untuk menyajikan hasil penelitian melalui presentasi oral maupun poster. Untuk memperoleh informasi lebih lengkap mengenai pertemuan tingkat tinggi tersebut, silahkan unduh brosur. Untuk menyiapkan makalah dan slide presentasi, silahkan unduh dan gunakan panduan penyiapan makalah dan slide presentasi, sedangkan untuk menyiapkan poster, silahkan unduh dan gunakan panduan penyiapan poster. Penyajian makalah melalui presentasi oral atau poster dikenakan biaya Rp 500.000,- yang untuk pembayarannya silahkan menghubungi panitia.

Informasi lebih lanjut mengenai pertemuan tingkat tinggi bilateral ini dapat diperoleh dari Panitian Penyelenggara. Silahkan hubungi Agus Pramerta melalui ponsel 081805464183 atau email putuagus1708@gmail.com untuk hal-hal yang berkaitan dengan penyiapan makalah, abstrak, dan slide presentasi oral dan menghubungi Agus Wahyudi melalui ponsel 08174721297 atau email salasa.gm@gmail.com untuk hal-hal yang berkaitan dengan penyiiapan poster dan pemasukan abstrak poster. Pemasukan abstrak makalah presentasi oral dan abstrak poster diperpanjang sampai 20 Mei 2015. Untuk yang berada di Kupang dan sekitarnya, informasi lebih lanjut dapat diperoleh dari Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama Undana melalui email pr4@undana.ac.id atau dari Ir. Yosep Seran Mau, M.Sc., Ph.D., melalui ponsel 081392990010 atau email yosepmau@yahoo.com, dari Ir. Jenny E.R. Markus, M.App.Sc., melalui ponsel 0811384056 atau email jenny_erm@yahoo.com, dan dari Remi L. Natonis, SP, MSi., melalui ponsel 085253278499 atau email remi.natonis@gmail.com.

Bagi Anda yang berada di Kota Kupang dan sekitarnya, silahkan masukkan abstrak makalah atau abstrak poster melalui kotak MediaFire FileDrop di bawah ini:


Kami akan membantu mengirimkan file yang kami terima kepada Panitia Penyelenggara sesuai dengan batas waktu penerimaan file yang telah ditetapkan.

Minggu, 03 Mei 2015

Rektor dan Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama dan Alumni Menghadiri Simposium Tambang Rakyat dan Tambang Skala Kecil di Charles Darwin University

Rektor Undana Prof. Fred Benu dan Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama dan Alumni Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D., diundang menghadiri Symposium & Senior Visit for the GPFD Artisanal and Small-scale Mining for Development in Eastern Indonesia yang diselenggarakan oleh Charles Darwin University di Darwin, Northern Teritorry, pada 28 April sampai 1 Mei 2015. Rektor Undana diundang dalam kapasitas Undana sebagai anggota tim inti penelitian tambang rakyat dan tambang sekala kecil yang didanai oleh GPFD (Government Partnership for Development). GPFD merupakan skema bantuan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade kepada negara-negara sedang berkembang. Selain Undana, anggota tim inti penelitian yang dikoordinasikan oleh Charles Darwin University tersebut adalah Australian National University (ANU), Canberra, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Nusa Tenggara Timur (BLHD Prov. NTT), Kupang, dan Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari. Selain dihadiri anggota inti, simposium tersebut juga dihadiri oleh para pemangku kepentingan di lokasi penelitian, di antaranya Kepala Dinas Pertambangan Provinsi NTT, Kepala Dinas Pertambangan Provinsi Sulawesi Tenggara, Bupati Kupang Provinsi NTT, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Kepala BLHD Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara, dan perwakilan Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia (APRI) dan LSM BaliFocus.

Keberangkatan Rektor dan Pembantu Rektor IV dalam simposium tersebut sepenuhnya dibiayai oleh melalui anggaran penelitian. Rencananya Rektor dan Pembantu Rektor IV berangkat pada 27 April 2015 pagi dengan penerbangan Wings Air, tetapi karena berangkat terlalu pagi dan harus transit, maka keberangkatan dialihkan dengan menggunakan penerbangan Garuda Indonesia. Namun ternyata penerbangan Garuda Indonesia pagi hari dibatalkan sehingga baru bisa berangkat dengan penerbangan Garuda Indonesia siang hari dengan transit cukup lama di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya. Akibatnya, penerbangan tidak bisa dilanjutkan karena penerbangan AirAsia Indonesia Denpasar-Darwin berangkat pukul 13.30 ketika penerbangan Garuda baru tiba di Denpasar. Karena keterlambatan disebabkan oleh pihak Garuda Indonesia maka penerbangan ke Darwin dilanjutkan dengan menggunakan penerbangan Jetstar dengan biaya dari Garuda Indonesia. Rektor dan Pembantu Rektor IV tiba di Darwin menjelang tengah malam dan langsung menuju penginapan Travelodge Mirambeena Resort.



Acara simposium dilaksanakan sehari pada 28 April 2015 di Ruang Orange 12, Chancellor Building, Charles Darwin University, dibuka oleh Deputy Vice-Chancellor Prof. Sharon Bell didampingi oleh Director, Risearch Institute for the Environment and Livelihoods Prof. Andrew Campbell, dan First Secretary, Indonesian Consulate, Bapak Ardian Nugroho. Dalam pidatonya, Deputy Vice Chancellor Prof. Sharon Bell menggaris bawahi pentingnya hubungan kerjasama antara CDU dan universitas-universitas di kawasan Indonesia Timur, khususnya dengan Undana dan UHO. Acara pembukaan dilanjutkan dengan presentasi oleh para delegasi. Pada sesi presentasi tersebut dibagikan cetakan Bab 1 buku monograf elektronik gratis "My Country, Mine Country: Indigenous people, mining and development contestation in remote Australia" (Negeriku Negeri Tambang: Kontestasi orang asli, pertambangan, dan pembangunan di babian terpencil Australia) oleh Benedict Scambary, terbitan Australian National University ePress, yang oleh peserta simposium diplesetkan menjadi "Mining is Mine, Not Yours" (Tambang adalah Milikku, Bukan Milik Kamu". Pada kesempatan tersebut Rektor dan Pembantu Rektor Undana mempresentasikan hasil penelitian survei cepat di DAS Noelmina dan hasil penelitian pendahuluan di DAS Tilong dengan judul Managnese mining in West Timor: Impacts and response opportunities. Simposium diakhiri dengan aling tukar cindra mata dan foto bersama di Indonesian Garden, taman Indonesia yang terletak bersebelahan dengan Chancellor Building.


Kunjungan lapangan dilakukan pada 29 April 2015 di tiga lokasi, yaitu Rum Jungle Uranium Mining, Finn Road Gravel Extraction, dan Girraween Road Sand Extraction. Sebelum melakukan kunjungan, terlebih dahulu peserta menerima penjelasan mengenai lokasi tambang uranium Jungle Rum oleh Petter Waggitt, Director of Mining Compliance, Department of Mines and Energy. Peter Waggit menjelaskan sejarah penemuan tambang uranium Rum Jungle dan upaya rehabilitasinya yang ternyata memerlukan biaya yang sangat besar.


Tambang uranium Rum Jungle memproduksi uranium untuk persenjataan nuklir Amerika Serikat dan Inggris selama 1954-1971. Semula direncanakan sebagai tambang bawah tanah, tetapi karena kesulitan teknis, diubah menjadi tambang terbuka. Tambang dimiliki oleh pemerintah Australia melalui Australian Atomic Energy Commission (AAEC, sekarang Australian Nuclear Science and Technology Organisation, ANSTO) dan dioperasikan oleh anak perusahaan tambang global Rio Tinto ketika itu, Territory Enterprises Pty Ltd (TEP). Karena perusahaan yang mengoperasikan tambang menolak bertanggung jawab melakukan reklamasi, bekas tambang uranium ini menimbulkan pencemaran lingkungan paling parah di Australia. Pencemaran parah terjadi karena struktur geologi lokasi tambang berbatuan pirit yang mudah teroksidasi ketika terbongkar, menyebabkan terjasi oksidasi sulfida, melepaskan asam yang mempercepat menghancurkan batuan dan melepaskan logam berat ke dalam aliran anak-anak di wilayah Timur DAS Finniss. Reklamasi yang dilakukan pada 1977 dengan biaya A$ 16,2 juta, tetapi ternyata kurang berhasil sehingga perlu kembali dilakukan reklamasi pada 1990 yang menghabiskan biaya A$ 1,8 juta. Rektor Undana tidak berkesempatan menghadiri kunjungan lapangan karena harus terbang meninggalkan Darwin untuk menghadiri pertemuan penting dengan ACIAR di Jakarta.



Setelah makan siang, kunjungan dilanjutkan ke lokasi reklamasi tambang pasir dan batu Finn Road dan reklamasi tambang pasir Girraween Road. Penjelasan mengenai kedua lokasi tambang ini diberikan oleh Dr. Sean Belairs, dosen senior botani dan ekologi restorasi CDU. Penjelasan berkaitan dengan penelitian reklamasi dengan menggunakan jenis-jenis tumbuhan lokal yang dilakukan di lokasi tambang pasir Finn Road dan keberhasilan reklamasi di Giraween Road sebagai habitat jeni-jenis tumbuhan karnivora Utricularia. Daftar jenis-jenis tumbuhan unik ini diberikan oleh The International Carnovprous Plant Society, jenis-jenis khusus di Northern Territory disediakan oleh Northern Territory Government, dan galeri foto disediakan oleh Carnivorous Plant Photofinder.



Kegiatan pada hari ketiga, 30 April 2015, adalah menghadiri pertemuan dengan Petter Waggitt di kantor Department of Mines and Energy di dalam kota Darwin, tidak jauh dari lokasi penginapan. Pada pertemuan tersebut, dijelaskan kebijakan pemerintah berkaitan dengan tambang dan pendekatan non-formal yang dilakukan untuk meminimalisasi dampak negatif tambang. Pada siang hari dilaksanakan rapat pembahasan rencana kegiatan penelitian pada 2015, baik di Timor Barat dan di Sulawesi Tenggara. Penelitian di Timor Barat akan difokuskan di DAS Noelmina, sedangkan di Sulawesi Tenggara difokuskan di Kabupaten Bombana. Sore harinya seluruh peserta diundang menghadiri makan malam penutupan di restoran Darwin Trailler Boat Club. Hari terakhir, 1 Mei 2015 merupakan hari bebas dan rombongan dari Indonesia kembali ke Indonesia dengan penerbangan AirAsia Indonesia pada malam hari. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh PR IV Undana untuk melobi perwakilan UHO dan perwakilan Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia (APRI) untuk membentuk konsorsium tambang rakyat yang terdiri atas universitas, dinas pertambangan, badan lingkungan hidup daerah, dan lembaga swadaya masyarakat. Prakarsa tersebut memperoleh sambutan positif dan akan segera ditindaklanjuti sekembali di Indonesia.


Penerbangan kembali ke Indonesia ternyata ditunda karena pesawat mengalami masalah teknis sehingga harus kembali mendarat di Denpasar setelah terbang kira-kira setengah jam. Sebagian dari rombongan menunggu di ruang tunggu bandara, sebagian lagi menunggu di luar gedung Bandar Udara Internasional Darwin. Rombongan baru bisa berangkat setelah tengah malam sehingga baru tiba di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, dini hari untuk kembali melanjutkan penerbangan ke kota masing-masing setelah beristirahan beberapa jam di hotel. Rombongan dari Kupang yang terdiri atas Kepala Dinas Pertambangan Provinsi NTT Thobias Uly, Kepala BLHD Provinsi NTT Frederik Tielman, Kepala Bidang BLHD Provinsi NTT Elisabeth Ugutterbang, Bupati Kupang Dr. Ayub Titu Eki, dan PR IV Undana Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D., kembali dengan penerbangan Garuda Indonesia dan tiba di Bandar Udara El Tari, Kupang, pukul 09.00 WITA.



Jumat, 24 April 2015

Undana Melaksanakan Dharma Shanti Nyepi Saka 1937: Menjaga Kebersamaan dalam Keberagaman

Tulisan Kontribusi Wayan Nampa
Sekretaris Panitia Dharma Shanti Nyepi Saka 1937 Undana

"Kita mungkin mampu mengerjakan hal-hal kecil seorang diri, tetapi hal yang lebih besar dapat kita lakukan ketika kita bersama-sama. Kebersamaan adalah hal pokok yang harus dipupuk apabila ingin melakukan hal yang lebih besar"
Prof. Fred Benu, Rektor Undana

Hanya kebersamaan membuat kita bisa menghasilkan sesuatu. Demikian salah satu kalimat yang disampaikan Rektor Undana, Prof. Ir. Fred. L. Benu, MSi., Ph.D., ketika memberikan sambutan dalam acara Dharma Shanti Nyepi Saka 1937, 16 April lalu, di Aula Universitas Nusa Cendana, Jl. Adisucipto, Fenfui. “Sebagai Universitas terbesar di NTT, Undana merupakan miniatur Indonesia. Sivitas akademika Undana berlatar belakang dari berbagai suku dan agama di Indonesia. Fluralisme di Undana harus dirajut dalam kebersamaan sehingga kita dapat menghasilkan sesuatu pada peradaban ini”, ungkap Fred Benu, sapaan akrab Rektor Undana ini. “Kita tunjukkan semangat kebersamaan dengan merayakan setiap perayaan hari keagamaan. Hari ini kita merayakan Nyepi secara bersama-sama, nanti kita merayakan Lebaran, dan Natal bersama”, lanjutnya.

Lebih jauh guru besar ekonomi pertanian ini mengungkapkan bahwa kita tidak akan menghasilkan apa-apa di dalam kesendirian, tetapi kita akan mampu mengerjakan sesuatu yang besar jika bersama-sama. "Dengan begitu kita dapat memberikan sesuatu terhadap peradaban. Peradaban Islam memberikan sumbangsihnya dalam pembangunan manusia, begitu juga peradaban Hindu dan peradaban Kristen yang juga telah mampu memberikan kontribusinya untuk kehidupan. Peradaban barat telah memberikan pengaruhnya terhadap kehidupan, bagaimana dengan peradaban Indonesia. Bagaimana dengan peradaban Indonesia dengan keberagamannya, sejauh mana akan mampu memberikan kontribusi terhadap peradaban dunia. Bagaimana kita mengelaborasi kebudayaan Jawa, Timor, Papua, Sumatra, Bali, Hindu, Kristen, Islam, dan suku bangsa lainnya menjadi satu dan memberikan sumbangsih terhadap peradaban, menjadi warna peradaban Indonesia. Dengan kebersamaan, kita mampu memberikan sumbangsih, sekecil apapun itu yang mampu, kita berikan untuk peradaban", Rektor menandaskan dalam sambutannya.

Nyepi dimaknai sebagai harmonisasi manusia dengan lingkunganny, penyucian bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (alam manusia). Antara manusia dan lingkungan alam haruslah harmonis. Ketua PHDI Provinsi NTT Drs. I G.M. Putra Kusuma, MSi., dalam sambutannya mengungkapkan, Nyepi merupakan momentum penyucian diri manusia melalui melaksanakan pantangan dan juga penyucian ‘adik-adik kita’. ‘Adik-adik kita’ yang dimaksud adalah binatang dan tumbuhan yang juga disucikan. Manusa melakukan harmonisasi dengan alam semesta sehingga keseimbangan alam tetap terjaga. Prof. Benu merasa terketuk ketika Ketua PHDI tadi mengungkapkan momentum penyucian adik-adik kita (tumbuhan dan hewan). “Pemikiran tumbuhan dan binatang tidak memiliki rasa merupakan pemikiran lama”, kata Prof. Fred Benu dalam sambutannya.

Rektor lebih lanjut menjelaskan, berbagai penelitian membuktikan bahwa tanaman dan hewan memiliki “rasa” yang ditunjukkan dengan bagaimana tanaman merespon perlakuan yang diberikan. “Dengan demikian, sudah seharusnya kita dpat berjalan secara harmonis dengan alam. Kebersamaan mengajarkan kita menerima dan memberi. Tidak saja cukup berterima kasih ketika diberikan sesuatu, tetapi bagaimana membalasnya. Kita (orang NTT) tidak memiliki kosa kata terima kasih, tetapi bukan berarti kita tidak memiliki rasa terima kasih. Orang timur memiliki kearifan lokal cara berterima kasih dengan membalas (hal baik) minimal setimpal terhadap apa yang diberikan orang kepadanya. Jadi berterima kasih tidak cukup dengan ucapan “terima kasih”, tapi bagaimana kita membalas perbuatannya dengan hal yang lebih baik lagi”, Rektor melanjutkan dalam sambutannya.


Sementara itu, Prof. Dr. I G.B. Arjana yang memberikan hikmah nyepi menyampaikan tema “Dengan Semangat Nyepi Kita Tingkatkan Kemajemukan Kampus Sebagai Penggerak Cita-Cita Mulia” sangat relevan dengan kondisi kita kini. Kondisi bangsa akhir-akhir terasa galau akibat harga BBM naik yang diikuti dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, pemalsuan berbagai produk makanan, pengoplosan minuman, penegakkan hukum yang tak kunjung tegak, kegaduhan politik. Dunia menghadapi ancaman climate change dan potensi tumbuhnya gerakan radikalisme. Tahun ini juga diadakan peringatan KAA (Konfrensi Asia Afrika) ke-60. KAA melahirkan Dasasila Bandung dan Gerakan Non-Blok. “Gebrakan Presiden Soekarno kala itu laksana membangkitkan bangsa-bangsa di dua benua (Asia dan Afrika) untuk bangkit dari tidurnya. Tetapi, kini dua benua ini kondisinya sangat ironis, mempunyai banyak sudut-sudut gelap berupa kemiskinan, tragedi kependudukan, kelaparan, dan keterbelakangan", urai Prof. Arjana dalam sambutannya.

Lebih lanjut mantan Pembantu Rektor bidang akademik Undana ini mengungkapkan adanya ancaman perubahan iklim yang direspon oleh warga dunia melalui kampanye Earth Hour (Jam Bumi), yang pada tahun ini diperingati (28/3) lalu jam 20.30-21.30 waktu setempat. Namun gemanya makin memudar. Nyepi telah ratusan tahun dirayakan dengan mematikan lampu minimal 12 jam, tidak melakukan aktivitas dan pantangan lainnya. Di pulau Bali, sepi tanpa deru mesin pabrik, knalpot kendaraan, tanpa deru mesin pesawat, dapat dilaksanakan secara masif dan konsisten karena terkait dengan perintah agama Hindu. Dikaitkan dengan konsep pemanasan global dan energi. konsep ini telah mampu melakukan penghematan yang sedemikian signifikan.

Perayaan Dharma Shanti Nyepi, Tahun Baru Saka 1937 di lingkungan Universitas Nusa Cendana dilaksanakan oleh Panitia yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Komang Mahayasa, MP. Perayaan dimulai dengan persiapan oleh Panitia. Acara utama dihadiri oleh kalangan pimpinan Undana, pimpinan unit, dosen, dan perwakilan mahasiswa. Acara perayaan diakhiri dengan makan siang bersama yang dihibur dengan acara live tari topeng dan tari joged bungbung. Tari joged bungbung merupakan kesenian rakyat yang penarinya menari dengan mengajak seorang penonton untuk menari bersama.



Sabtu, 07 Maret 2015

Menghijauankan Kampus: Bukan Soal Menanam Semilyar Pohon, tapi Soal Memelihara untuk Meninggalkan Jejak Sejarah

Sejak awal musim hujan 2015/2016, Undana telah melakukan penanaman pohon sebagai bbagian dari upaya untuk menjadikan kampus sebagai tempat tumbuh jenis-jenis pohon khas lahan kering kepulauan. Pagi 6 Maret 2015 kembali dilakukan penanaman, kali ini oleh Resimen Mahasiswa Mahadana. Penanaman dilakukan di seputar lapangan sepak bola, melanjutkan penanaman yang telah dilakukan oleh Rektor sebulan sebelumnya. Penanaman pohon di kampus seharusnya dikoordinasikan oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Cendana dan Arboretum Lembaga Penelitian Undana, Dr. Ir. M. Kasim, MP, tetapi karena yang bersangkutan berhalangan maka dialihkan kepada Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lapangan Terpadu (UPT-LLT) Lahan Kering Kepulauan, Dr. Ir. Muhammad S.M. Nur, MSi, bersama dengan Resimen Mahasiswa di bawah Komandan Resimen Kristoforus Wara.

Penanaman pertama dilakukan oleh Rektor bersama dengan mahasiswa Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Undana yang dikoordinasikan oleh dosen kehutanan Nixon Rammang, SHut., MSi. Rektor menanam anakan beringin Ficus benjamina sumbangan suami-istri David Fina-Indah Setyawati, pencinta pohon lokal Timor. Rektor melakukan penanaman setelah mengikuti rapat di Bank NTT, di mana beliau menjabat sebagai komisaris independen. Penanaman diikuti oleh para pembantu rektor, kecuali Pembantu Rektor I yang pada saat itu berhalangan, Kepala Puslitbang Cendana dan Arboretum, dan Kepala LLT Lahan Kering Kepulauan. Pada kesempatan tersebut Rektor kembali menegaskan program penghijauan kampus dengan menanam jenis-jenis pohon lokal untuk menjadikan kampus Undana bukan hanya hijau, tetapi menjadi lokasi konservasi ex situ bagi berbagai jenis pohon hutan kering. Rektor menyampaikan agar anakan bukan hanya ditanam tetapi juga dipelihara sampai benar-benar hidup. Menurut Rektor, menanam memang perlu, tetapi di lahan kering seperti di NTT, memelihara anakan yang telah ditanam juga sangat penting, terutama pada musim kemarau, sehingga anakan bisa bertahan dari kekeringan dan dari ancaman kebakaran.



Penanaman kedua pada 7 Maret 2015 dilakukan bersama dengan Resimen Mahasiswa Mahadana yang dihadiri pula oleh BEM Undana, melanjutkan penanaman pertama di sekeliling lapangan sepak bola. Penanaman dilakukan pada lubang tanam yang telah digali pada hari sebelumnya dan dilanjutkan dengan menanam pada lubang yang baru digali. Lubang dan jarak tanam ditentukan secara teknis oleh UPT-LLT Lahan Kering Kepulauan. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pemeriksaan terhadap anakan yang ditanam pada penanaman pertama untuk mengganti anakan yang mati. Rektor berhalalangan hadir pada penanaman kedua ini karena baru kembali dari Jakarta pada malam sebelumnya. Pembantu Rektor IV yang hadir pada kesempatan tersebut kembali menyampaikan bahwa penanaman pohon dilakukan bukan hanya untuk menghijaukan kampus, tetapi juga sekaligus untuk menjadikan kampus sebagai lokasi pelestarian ex situ bagi jenis-jenis pohon hutan kering NTT. Pembantu Rektor IV juga menyampaikan bahwa melakukan penghijauan sebenarnya bukan hanya soal menanam semilyar pohon, tetapi soal memelihara anakan pohon yang ditanam sampai benar-benar hidup.


Pada kesempatan penanaman kedua tersebut Pembantu Rektor IV berkesempatan memperkenalkan vegetasi lokal yang terdapat di Undana, di antaranya pohon kabesak (Acacia leucophloea (Roxb.) Willd.), masi (Bauhinia malabarica Roxb.), dan kom (Ziziphus mauritiana Lam.), perdu koleng susu (Calotropis procera (Aiton) W.T. Aiton), dan tumbuhan merambat dan melilit putri malu merambat (Mimosa diplotricha Sauvale) dan buah putri (Passiflora foetida L.). Di antara jenis pohon lokal, kom mempunyai tajuk melebar membulat tanpa menggugurkan daun pada musim kemarau sehingga sangat cocok untuk menjadi pohon peneduh. Kabesak merupakan pohon bersosok besar dan tinggi dengan percabangan yang membentuk tajuk yang menyerupai payung. Masi bertajuk tidak beraturan, tetapi daunnya juga tidak gugur pada musim kemarau. Koleng susu, putri malu merambat, dan buah putri merupakan tumbuhan yang tumbuh pada lahan terganggu dan berpotensi menggulma.



Setelah selesai melakukan penanaman dilakukan peninjauan ke lokasi penanaman cendana yang akan dilakukan oleh resimen mahasiswa dan oleh BEM/BLM. Penanaman cendana menjadi sangat penting karena cendana merupakan pohon endemik NTT yang namanya menjadi nama universitas. Penanaman cendana direncanakan akan dilakukan pada lokasi di depan lapangan sepak bola yang berhadapan dengan pertigaan jalan menuju ke gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat dan ke gedung Pascasarjana Undana yang pada saat ini ditumbuhi oleh pohon gamal. Pembantu Rektor IV menyampaikan bahwa gamal sebenarnya merupakan pohon perintis sehingga setelah berhasil memperbaiki kondisi mikro maka pohon tersebut seharusnya diganti dengan jenis-jenis pohon lain. "Jangan sampai orang mengolok-olok kita dengan sebutan Universitas Nusa Gamal, Unaga, karena membiarkan pohon gamal memenuhi kampus", kata Pembantu Rektor IV bergurau. Peninjauan ke lokasi penanaman diakhiri dengan menetapkan kesepakatan bahwa penyiapan lokasi akan dilaksanakan pada hari Rabu, 18 Maret 2015 dan pada hari Jumlat, 20 Maret 2015, bersama-sama dengan resimen mahasiswa dan BEM/BLM Undana.


Penanaman pohon akan dilakukan secara bertahap pada berbagai lokasi lainnya pada setiap musim hujan. Pada musim hujan tahun ini dilakukan pembibitan anakan pohon lokal di rumah pembibitan yang dibangun oleh UPT-LLT Lahan Kering Kepulauan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites